Stok AS Diproyeksi Turun, Harga Minyak Menghangat

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 16:44 WIB, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate menguat 0,23% atau 0,13 poin ke posisi US$56,34 per barel.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  19:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Indikasi penurunan tensi perang dagang antara China dan Amerika Serikat dan prospek stimulus moneter, telah mendorong harga minyak berjangka ke zona hijau, pada Selasa (20/8/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 16:44 WIB, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate menguat 0,23% atau 0,13 poin ke posisi US$56,34 per barel, sedangkan harga minyak mentah Brent menguat 0,17% atau 0,10 poin ke posisi US$59,18 per barel.

Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross pada Senin (19/8/2019) mengatakan, Gedung Putih akan memperpanjang masa penangguhan kepada Huawei Technologies selama 90 hari lagi. Artinya, perusahaan teknologi Negeri Panda itu boleh membeli komponen dari perusahaan-perusaahaan AS.

Langkah ini dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump menunda tariff baru pada beberapa barang China hingga pertengahan Desember mendatang.

Langkah Gedung Putih pada Huawei dipandang sebagai dorongan untuk prospek kesepakatan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia. AS telah menambahkan lebih dari 40 afiliasi perusahaan China ke daftar hitam perdagangan.

Huawei mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penangguhan hukuman tidak mengubah fakta bahwa mereka telah diperlakukan secara tidak adil.

Selama sebulan ini harga minyak mentah telah bergerak antara zona merah dan hijau karena investor bereaksi terhadap perkembangan perang perdagangan.

Sementara itu, Jerman sedang mempersiapkan langkah-langkah stimulus fiskal untuk mencegah kemungkinan resesi yang mendalam, sedangkan lebih banyak pemotongan suku bunga The Fed diperkirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika.

Presiden Fed Boston Eric Rosengren dan Presiden Fed Kansas City Esther George mendorong kembali terhadap penurunan suku bunga AS lebih lanjut. Pertama kalinya Ketua The Fed Jerome Powell menghadapi perbedaan pendapat ganda sejak dia mengambil alih pimpinan bank sentral pada Februari 2018.

Pidato Powell di bank sentral tahunan retret di Jackson Hole, Wyoming pada hari Jumat (23/8/2019) mendatang akan sangat diawasi dengan ketat oleh pasar.

Stephen Innes, Managing Partner di VM Markets Pte Singapura mengatakan, hasil dari pertemuan perdagangan AS dan China berikutnya akan menjadi ujian sebenarnya bagi harga minyak.

“Para trader minyak tak ingin berpacu terlalu jauh di depan realitas ekonomi dari narasi perang dagang, jadi sedikit aksi ambil untung sedang dilakukan,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (20/8/2019).

Di sisi lain, analis meramalkan bahwa stok minyak mentah AS turun untuk pertama kalinya dalam 3 minggu, pertanda positif untuk pasar minyak.

Stok minyak mentah Amerika diperkirakan turun 1,4 juta barel dalam sepekan hingga 16 Agustus, menurut estimasi median dalam survei Bloomberg. Data resmi dari Administrasi Informasi Energi akan dirilis Rabu (21/8/2019) waktu setempat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, perang dagang AS vs China

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top