Ancaman Cuaca Kering di Indonesia Angkat Harga CPO

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO untuk pengiriman November 2019 di Bursa Derivatif Malaysia dibuka menguat 0,23 persen atau 5,00 poin ke posisi 2.161,00 ringgit per ton pada hari ini.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  16:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) berjangka menghijau pada Selasa (20/8/2019), setelah ditutup memerah sehari sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO untuk pengiriman November 2019 di Bursa Derivatif Malaysia dibuka menguat 0,23 persen atau 5,00 poin ke posisi 2.161,00 ringgit per ton, pada hari ini, setelah ditutup melemah 1,64 persen atau 36,00 poin di level 2.156,00 ringgit per ton pada Senin (19/8/2019).

Hingga pukul 13:54 WIB, harga sawit masih bertahan di zona hijau dengan menguat 0,56 persen atau 12,00 poin ke posisi 2.168,00 ringgit per ton.

Ekspektasi gangguan cuaca di negara produsen terbesar CPO dunia, yaitu Indonesia mewarnai perdagangan sawit pada hari ini.

Dilansir dari Reuters, Selasa (20/8/2019), kekeringan telah melanda sebagian besar pulau di Indonesia, karena dampak El Nino yang ringan. 

Akibatnya, produksi kelapa sawit Indonesia diperkirakan terpukul dalam jangka pendek hingga menengah. Pasalnya, ancaman kekeringan terjadi di seluruh wilayah penananaman utama. Cuaca kering dikhawatirkan menunda pematangan buah dan menurunkan produksi sawit.

Sementara itu, puncaknya diperkirakan akan berlangsung dari pertengahan Agustus hingga medio September 2019. Selain itu, jumlah titik panas (hotspot) juga meningkat.

Kepada Reuters, empat dari tujuh produsen sawit lokal memperkirakan produksi kuartal ketiga rata-rata lebih lambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Namun, tiga produsen lainnya mengatakan efek kekeringan hanya akan terlihat dalam paruh pertama tahun depan.

Pinta S. Chandra, Investor Relations Sinar Mas Agribusiness and Food, mengatakan kekeringan yang berkepanjangan biasanya menyebabkan produksi tandah buah segar lebih rendah, dan dapat mencapai ekstraksi minyak selama panen dalam 6-12 bulan ke depan.

El Nino, pemanasan perairan Samudra Pasifik Timur, membawa cuaca kering di Asia Tenggara dan menurunkan hasil kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Setelah El Nino 2015, produksi Asia Tenggara jatuh pada 2016 dan harga naik lebih dari 3.000 ringgit.

Vice President of Communication Astra Agro Lestari Taufan Mahdi mengatakan, cuaca akan mempengaruhi produksi pada kuartal ketiga. “Namun kami tidak merevisi target produksi,” katanya.

Dia memperkirakan produksi minyak sawit perusahaannya lebih rendah tahun ini dari 1,94 juta ton tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak sawit, harga cpo

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top