Pasar Global Terbebani Data China, IHSG Diselamatkan Sentimen Inflasi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan momentum penguatannya sekaligus memperpanjang reli pada perdagangan hari ketiga berturut-turut, Jumat (1/2/2019), didorong sejumlah saham emiten perbankan.
Renat Sofie Andriani | 01 Februari 2019 17:21 WIB
Karyawan melintas di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (23/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan momentum penguatannya sekaligus memperpanjang reli pada perdagangan hari ketiga berturut-turut, Jumat (1/2/2019), didorong sejumlah saham emiten perbankan.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup naik 0,09% atau 5,67 poin di level 6.538,64 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (31/1), berakhir menanjak 1,06% atau 68,78 poin di posisi 6.532,97.

Setelah dibuka dengan penguatan 0,29% atau 19,09 poin di level 6.552,06, pergerakan indeks sempat tergelincir ke zona merah. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.516,44 – 6.581,73.

Empat dari sembilan sektor dalam IHSG berakhir di teritori positif, dipimpin sektor perdagangan (+0,94%) dan finansial (+0,72%). Lima sektor lainnya menetap di zona merah, dipimpin infrastruktur (-1,03%) dan tambang (-0,66%).

Dari 627 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 196 saham menguat, 189 saham melemah, dan 242 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang masing-masing naik 1,82% dan 2,01% menjadi pendorong utama atas berlanjutnya penguatan IHSG hari ini.

Dilansir dari Bloomberg, saham emiten bank mendorong berlanjutnya reli IHSG menyusul rilis data inflasi yang dilihat sebagai alasan kemungkinan bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan sikap kebijakan moneternya.

Badan Pusat Statistik menyampaikan inflasi Januari 2019 adalah sebesar 0,32%, didorong oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran.

Dalam materi paparan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis hari ini disebutkan adanya kenaikan di kelompok bahan makanan sebesar 0,92%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,27%; dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,28%.

Selain itu, kelompok sandang 0,47%; kelompok kesehatan 0,27%; dan kelompok pendidikan, rekreasi, serta olahraga 0,24%. Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,16%.

Adapun tingkat inflasi tahun kalender Januari 2019 adalah 0,32% dan tingkat inflasi tahunan tercatat sebesar 2,82%.

“Kebijakan moneter Bank Indonesia mungkin tidak dapat diubah sepenuhnya pada pertemuan kebijakan berikutnya karena inflasi,” ujar Wisnu Wardana, ekonom di Bank Danamon, seperti dikutip Bloomberg.

Nilai tukar rupiah pun melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS pada hari kedua. Rupiah ditutup menguat 25 poin atau 0,18% di level Rp13.948 per dolar AS, setelah berakhir menguat tajam 158 poin atau 1,12% di posisi 13.973 pada perdagangan Kamis (31/1).

Bersama IHSG, indeks Bisnis-27 melanjutkan relinya pada hari ketiga dengan berakhir menguat 0,33% atau 1,93 poin di level 582,82, setelah ditutup menanjak 1,24% di posisi 580,89 pada perdagangan Kamis (31/1).

Sementara itu, indeks saham lainnya di Asia terpantau berakhir cenderung variatif hari ini, di antaranya indeks FTSE Straits Times Singapura (-0,05%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,03%), dan indeks PSEi Filipina (+1,71%).

Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik tipis 0,07% dan Topix berakhir tergelincir 0,18%. Indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China mampu menguat masing-masing sebesar 1,30% dan 1,43%, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong ditutup turun 0,04%.

Secara keseluruhan, pasar saham global tergelincir dari penguatan yang mampu dibukukan sehari sebelumnya setelah laporan swasta Caixin/Markit menunjukkan menyusutnya aktivitas manufaktur di China pada Januari 2019.

Bursa saham pekan ini diuntungkan sikap kebijakan moneter dovish bank sentral AS Federal Reserve yang tidak lagi agresif soal kenaikan suku bunga lebih lanjut serta optimisme tercapainya kesepakatan perdagangan AS-China.

Namun indeks Caixin/Markit manufaktur China hari ini dilaporkan turun ke level terendahnya sejak Februari 2016, sehingga menambah rangkaian data ekonomi yang mengindikasikan perlambatan pertumbuhan global.

Sehari sebelumnya, laporan resmi PMI China menunjukkan aktivitas sektor manufaktur naik tipis menjadi 49,5 pada Januari dari 49,4 pada Desember 2018 atau tetap di bawah level 50 yang menunjukkan kontraksi.

Berdasarkan data Reuters, MSCI All Country World Index, melacak pergerakan pasar saham di 47 negara, tergelincir dari level tertingginya sejak 4 Desember 2018 sekaligus kenaikan bulanan terbaiknya untuk Januari.

Data China tersebut juga menggiring indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang turun 0,2%, setelah mencatatkan kenaikan sebesar 7,2% pada Januari.

“Tetap ada kekhawatiran tentang perlambatan pada ekonomi China. Ada beberapa investor yang ingin mengambil untung setelah pasar rebound dari penurunan pada Desember. Ada yang menahan pembelian sebelum rilis data pekerjaan AS dan akhir pekan,” ujar Ryuta Otsuka, pakar strategi dengan Toyo Securities, dikutip Bloomberg.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

BBRI

+1,82

BMRI

+2,01

CPIN

+4,39

BBNI

+1,93

BNLI

+10,40

Saham-saham penekan IHSG:                   

Kode

(%)

MAYA

-15,94

HMSP

-1,31

TLKM

-0,77

TPIA

-2,13

FREN

-7,48

Sumber: Bloomberg

 

Tag : IHSG
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top