Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Emas Makin Bersinar Jelang Rilis Putusan The Fed

Harga emas naik ke level tertingginya dalam delapan bulan saat investor menantikan petunjuk tentang prospek kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dari rapat Federal Reserve (FOMC meeting).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  16:41 WIB
Harga emas - Reuters
Harga emas - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas naik ke level tertingginya dalam delapan bulan saat investor menantikan petunjuk tentang prospek kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dari rapat Federal Reserve (FOMC meeting).

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas Comex kontrak April 2019 terpantau naik 3,20 poin atau 0,24% ke level US$1.318,40 per troy ounce hari ini, Rabu (30/1/2019), pukul 15.51 WIB, kisaran level tertingginya sejak Mei 2018.

Harga emas melanjutkan relinya untuk hari keempat berturut-turut, setelah berakhir menguat 0,45% atau 5,90 poin di posisi 1.315,20 pada perdagangan Selasa (29/1/2019).

Seiring dengan penguatan emas, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia sore ini terpantau turun tipis 0,02% atau 0,023 poin ke level 95,798.

Indeks dolar kembali bergerak di zona merah setelah dibuka turun 0,033 poin atau 0,03% di level 95,788. Pada perdagangan Selasa (29/1) indeks dolar berakhir naik tipis 0,08% atau 0,075 poin di posisi 95,821.

Sepanjang tahun ini, emas telah naik 2,5% dan mengarah menuju penguatan bulanan keempat beruntun, sedangkan indeks dolar AS turun untuk bulan ketiga. Pergerakan dolar AS memengaruhi nilai pembelian emas terutama bagi pembeli yang membayar dalam mata uang lainnya.

Daya tarik logam mulia ini meningkat sebagai sarana penyimpan nilai ketika investor mempertimbangkan prospek kenaikan suku bunga AS yang lebih sedikit tahun ini dan tanda-tanda pertumbuhan global yang lebih lambat di tengah perang dagang AS-China.

Indikator awal Bloomberg Economics menunjukkan ekonomi China melambat lebih lanjut pada Januari, sementara perusahaan-perusahaan besar seperti Apple Inc. dan Caterpillar Inc., merasakan dampaknya.

Penundaan data pemerintah AS pascapenutupan sebagian layanan pemerintahan (government shutdown) dan negosiasi atas kesepakatan Brexit di Inggris juga menambah ketidakpastian di pasar keuangan.

Pasar kini tengah menantikan pernyataan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang dijadwalkan akan mengadakan konferensi pers pada Rabu malam waktu setempat (Kamis WIB) setelah pertemuan bank sentral tersebut tuntas.

“Dengan melambatnya aktivitas ekonomi dan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut yang lebih kecil dibandingkan dengan 2018 akan dapat memberikan dukungan untuk emas,” kata John Sharma, seorang Ekonom di National Australia Bank.

“Investor cenderung mengikuti komentar Powell tentang prospek ekonomi dan ada atau tiadanya kemungkinan kenaikan suku bunga di masa mendatang.”

Setelah menaikkan suku bunga sebanyak empat kali tahun lalu, para pembuat kebijakan The Fed telah menunjukkan kesediaan untuk bersabar dan fleksibel dalam pendekatan mereka untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Survei terbaru Bloomberg menunjukkan mayoritas responden memperkirakan penaikan suku bunga AS tetap akan dilakukan sebanyak dua kali 2019, yakni pada Juni dan Desember, alih-alih Maret dan September seperti yang diperkirakan dalam survei sebulan lalu.

Seperti diketahui, harga emas sensitif terhadap suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi permintaan untuk logam mulia tak berbunga seperti emas, serta membuat emas yang bernilai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi para pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas Harga Emas Hari Ini
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top