Didorong Kebijakan Fiskal, Yen dan Dolar Australia Tumbuh Menguat

Mata uang yen kembali melompat setelah adanya persetujuan kebijakan fiskal baru dan melemahnya dolar AS. Di sisi lain, dolar Australia menguat setelah bank sentral memutuskan penurunan suku bunga.
Hafiyyan | 02 Agustus 2016 18:34 WIB
Mata uang Jepang Yen - wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang yen kembali melompat setelah adanya persetujuan kebijakan fiskal baru dan melemahnya dolar AS. Di sisi lain, dolar Australia menguat setelah bank sentral memutuskan penurunan suku bunga.

Pada perdagangan Selasa (2/8/2016) pukul 17:09 WIB pasangan JPY-USD menguat 0,729 poin atau 0,72% menuju 101,667 per dolar AS. Adapun pada pukul 16:58 WIB, indeks dolar menurun 0,29% atau 0,276 poin menuju 95,437.

Yen mengalami penguatan secara signifikan setelah kabinet Jepang menyetujui paket belanja pemerintah, termasuk dana fiskal baru sebesar 13,5 triliun yen. Dari sisi eksternal, mata uang tersebut terdorong pelemahan dolar akibat buruknya data industri.

Alvin Tan, strategist Sociaete Generale, menyampaikan pasar melakukan aksi jual dolar AS sejak rilis PDB kuartal II/2016 Paman Sam yang di bawah ekspektasi. Terkini, data Institute for Supply Management's (ISM) yang menggambarkan aktivitas industri nasional mengalami penurunan.

Data ISM periode Juli 2016 menunjukkan pemerosotan sebanyak 1,13% menuju 52,6 dari bulan sebelumnya 53,2 dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 53.

Sentimen tersebut memberikan tekanan tambahan kepada greenback. Pasar pun memprediksi probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 40% pada Desember 2016.

"Dolar meningkat moderat pekan lalu, tetapi kombinasi hasil PDB kuartal kedua dan sikap dovish The Fed menyebabkan aksi ambil untung [dolar]," ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Selasa (2/8/2016).

Roy Teo, Senior FX Strategist ABN Amro, dalam publikasi risetnya, Selasa, menuliskan keputusan The Fed dan Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga memberikan kestabilan pada pasangan JPY-USD di sekitar 102.

Keputusan BOJ melipatgandakan fasilitas pinjaman dalam dolar AS mengurangi biaya lindung nilai terhadap USD. Akibatnya, para spekulan merasa kurang tertarik meningkatkan pembelian yen untuk jangka panjang.

Oleh karena itu, dengan tidak adanya penurunan tajam dalam sentimen risiko dan proyeksi harga minyak mentah di kisaran US$40 per barel, penguatan yen akan terbatas di 100 per dolar AS. Teo memprediksi, dalam beberapa minggu mendatang, harga USD-JPY berkisar 100-104 per dolar AS.

Sementara itu, sesuai ekspektasi pasar, Reserve Bank of Australia (RBA) menurunkan suku bunga 25 basis poin menuju 1,5% pada Selasa (2/8), yang menguatkan mata uangnya. Pada perdagangan pukul 17:10 WIB, pasangan AUD-USD menguat 0,58% menuju 0,758 per dolar AS.

Teo memprediksi, RBA akan kembali memangkas suku bunga 25 basis poin pada November menjadi 1,25% untuk menggenjot perekonomian domestik. Saat ini, Negeri Kangguru sedang menghadapi masalah perlambatan pertumbuhan pekerja dan disinflasi yang di bawah target 2%-3%.

Namun, apresiasi AUD berdampak negatif pada sisi ekspor. Karena itu, ABN Amro memprediksi mata uang tersebut menurun ke level 0,72-0,73 per dolar AS dalam beberapa bulan mendatang.

Tag : mata uang asia pasifik
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top