Bisnis.com, JAKARTA – Pasar obligasi Amerika Serikat (AS) sedang dilanda anomali. Dalam kondisi normal, kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury selalu diikuti dengan penguatan mata uang dolar. Sedangkan dalam situasi anomali saat ini, dua variabel tersebut berseberangan arah.
Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan, sebelumnya US treasury yield naik karena ekonomi AS menguat dan membuat suku bunga meningkat. Kondisi ini turut membuat nilai greenback terdongkrak.
Sementara saat ini, Handy melihat US treasury yield naik lebih disebabkan karena adanya risk premium di AS. Dengan adanya Trump jadi Presiden, ujarnya, defisit fiskal AS masih tetap tinggi dan beban utang naik signifikan. Ini yang membuat US treasury diturunkan rating-nya tidak lebih dari AAA.
"Dan ini yang menjelaskan kenapa US treasury yield tinggi, malah orang menghindari dolar AS. Karena story-nya beda dengan sebelumnya," ujarnya dalam forum Mandiri Macro and Market Brief 3Q25 Indonesia Economic Outlook, Kamis (28/8/2025).
Situasi anomali di AS tersebut kemudian menjadi berkah bagi pasar obligasi di emerging market termasuk Indonesia. Yield obligasi di negara-negara berkembang terdorong ke bawah, merespons kondisi pasar di mana US yield treasury masih tertahan di 4,28% sedangkan dolar AS sejak awal tahun terkoreksi 27 basis poin.
Menilik kinerja SBN per 26 Agustus 2025, untuk seri 5 tahun-FR104 mengalami penurunan yield 134 poin year to date (YtD) ke 5,68% dengan total return termasuk kupon sebesar 10,00% YtD.
Baca Juga
Sementara itu, seri 10 tahun-FR103 yield turun 81 poin YtD ke 6,31% dengan total return 10,24% YtD. Seri 15 tahun-FR106 yield turun 52 poin YtD ke 6,68% dengan total return 9,19% YtD. Terakhir, seri 20 tahun-FR107 yield turun 38 poin YtD ke 6,82% dengan return 8,67% YtD.
"Ini kalau kita bicara total return karena ada capital gain ada penurunan SBN yield, rata-rata return investasi di obligasi kita sekarang di 10%. Sesuatu yang sangat positif di tengah kondisi ketidakpastian yang sangat tinggi," ujarnya.
Handy menilai performa SBN saat ini punya daya tarik untuk menyerap inflow dana asing ke pasar obligasi Indonesia. Musababnya, saat dolar AS melemah investor akan membutuhkan instrumen hedging atau lindung nilai.
Terbukti, inflow modal asing ke pasar obligasi Indonesia mulai membaik. Per Agustus 2025 tercatat net foreign inflow ke pasar obligasi mencapai US$0,7 miliar. Kondisi ini membaik dibanding per semester I/2025 lalu saat pasar justru mencatat net foreign outflow sebesar US$0,4 miliar.
Anomali di AS menjadi satu dari dua faktor yang membuat yield SBN Indonesia turun. Handy mengatakan, sentimen positif juga datang dari dalam negeri. Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan menjadi 5% pada Agustus ini akan mendorong penurunan suku bunga di pasar keuangan.
"Bisa kita lihat bond yield tenor pendek turun. Kita lihat juga ada faktor dengan adanya SRBI rate turun, dan outstanding SRBI turun yang mendorong pelonggaran likuiditas. Dan ini memberikan support buat pasar obligasi, tercermin dari adanya kenaikan dari sisi demand. Ini yang mendorong kenapa pasar kita masih cukup solid di pasar obligasi," tandasnya.