Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Lesu Darah Emiten Sektor Konsumer ICBP, AMRT, MAPA Cs di Tengah Fase Bullish IHSG

IHSG mencapai rekor tertinggi, tetapi sektor konsumer masih melemah sepanjang tahun berjalan 2025. Saham ICBP, AMRT, dan MAPA jadi penekan indeks komposit.
Akbar Maulana al Ishaqi, Dionisio Damara Tonce
Jumat, 29 Agustus 2025 | 06:01
Investor mengamati layar pergerakan data saham di Jakarta, Kamis (17/7/2025)./Bisnis/Himawan L Nugraha
Investor mengamati layar pergerakan data saham di Jakarta, Kamis (17/7/2025)./Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA —Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksi memiliki peluang untuk melanjutkan tren kenaikan pada sisa tahun ini setelah menyentuh rekor tertinggi baru (all time high/ATH) penutupan pada Kamis (28/8/2025). Meski demikian, indeks sektor konsumer masih bergerak lesu sepanjang tahun berjalan 2025. 

Pada penutupan perdagangan Kamis (28/8/2025), IHSG lagi-lagi kembali menyentuh level 8.000. Level tertinggi IHSG secara intraday terbentuk di level 8.022,76.

Meski demikian, indeks komposit gagal bertahan di level psikologis tersebut hingga akhir perdagangan. IHSG ditutup menguat 15,91 poin atau 0,2% ke posisi 7.952,09 pada kemarin. Level itu merupakan posisi penutupan tertinggi IHSG sepanjang masa atau ATH sekaligus mencerminkan kenaikan 12,32% secara year-to-date (YtD). 

Semua indeks sektoral tercatat melaju di zona hijau secara YtD, kecuali indeks sektor konsumer. Berdasarkan data BEI, indeks IDX Technology memimpin menguatan dengan melaju 165,05% sejak awal tahun disusul IDX Basic Materials yang naik 32,78% dan IDX Infrastructure yang meningkat 29,7% YtD. 

Berbanding terbalik, IDX Consumer Non-Cyclicals melemah 1,71% YtD bersama dengan IDX Consumer Cyclicals yang turun 1,61% pada periode yang sama. Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), misalnya, masuk jajaran top laggard IHSG dengan melemah 18,24% secara YtD. 

Senada, jajaran saham penekan IHSG secara YtD juga diisi oleh dua emiten peritel, yaitu saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang merosot 21,75% dan saham PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) yang anjlok 39,72% YtD. 

Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan instrumen saham kini menjadi sangat menarik, terutama karena yield instrumen lain mulai menurun seiring dengan kebijakan moneter global yang makin kondusif.

Menurutnya, ruang bagi penguatan lanjutan IHSG pun masih ada jika melihat bahwa penguatan selama ini lebih ditopang oleh emiten-emiten di luar IDX30. Jika kebijakan pemerintah mulai ekspansif, menurutnya ruang penguatan di saham blue chip cukup luas.

Mandiri Sekuritas pun akan segera merevisi target awal IHSG yang semula dipatok di level 7.650.

“Jadi, upside ada, tapi balik lagi ya ini tergantung dari sisi seberapa cepat kebijakan-kebijakan kondusif itu akan bisa translate terhadap risk growth yang akan akselerasi ke depannya,” katanya, Kamis (28/8/2025).

Adrian menilai faktor yang menekan kinerja indeks IDX Consumer Cyclicals dan IDX Consumer Non-Cyclicals sejauh ini sudah priced-in. Dengan demikian, menjadikan valuasi sektor ini kini menarik. Namun, dirinya tidak meyakini akan adanya katalis yang bisa segera mendorong kembali penguatan kedua sektor ini.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo mengatakan pelaku pasar sudah melakukan priced-in sejak Agustus, sehingga peluang terjadinya aksi jual saham setelah pengumuman penting atau sell on news pada September terbuka lebar.

“Secara historis, pergerakan IHSG pada September cenderung melemah,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (25/8/2025).

Dengan capaian tersebut, Audi menyampaikan bahwa ruang penguatan indeks komposit masih terbuka lebar, terutama apabila arus modal asing terus berlanjut. Meski kemarin asing justru net sell Rp278,76 miliar, sebulan terakhir investor asing sudah kembali net buy Rp10,46 triliun.

“Aliran modal asing yang masih terus masuk bisa mendorong IHSG. Mengingat adanya potensi pemangkasan suku bunga The Fed 25 basis poin pada September 2025, sehingga asing masih berpeluang melakukan priced in,” tuturnya.

Sementara itu, sejumlah sektor masih dianggap menarik di tengah tren pemangkasan suku bunga antara lain sektor perbankan, properti, dan semen.

Menurut Azis, sektor properti khususnya berpeluang terdorong karena penurunan suku bunga dapat meningkatkan daya beli masyarakat terhadap produk perumahan.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan pendorong utama aliran dana asing ke pasar saham Indonesia adalah keluarnya data pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I/2025 yang mencapai 5,12%.

“Kinerja pertumbuhan ekonomi di atas ekspektasi mendorong optimisme bagi investor asing terhadap perekonomian ke depan,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (28/8/2025).

Pemerintah sejauh ini juga berhasil mendongkrak performa ekonomi dalam hal investasi. Dorongan investasi menjadi alternatif saat faktor konsumsi melemah.

“Di sisi lain, emiten-emiten terkait dengan kebijakan suku bunga BI, ada harapan terjadi recovery pada semester II/2025 setelah BI mendorong pelonggaran moneter,” ujarnya.

Bank Indonesia memang telah menurunkan suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini menjadi 5,00%.

“Di sisa akhir tahun masih ada potensi penurunan suku bunga acuan BI satu hingga dua kali. Ini akan berdampak pada penurunan borrowing cost emiten,” kata Nafan.

Selain itu, sentimen global mulai dari kebijakan tarif impor AS dan tensi geopolitik mereda. Ditambah, ada harapan The Fed menjalankan kebijakan pelonggaran moneter.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro