Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Akhir Pekan Dibuka Perkasa ke Level Rp16.785,5 per Dolar AS

Rupiah dibuka menguat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (11/4/2025) ke level Rp16.785,5 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS telah melorot.
Karyawan menghitung uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Selasa (18/3/2025). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawan menghitung uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Selasa (18/3/2025). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (11/4/2025) ke level Rp16.785,5 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS telah melorot.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 0,22% atau 37,5 poin ke level Rp16.785,5 pada pukul 09.10 WIB. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau turun 0,69% ke level 100,17.

Sama seperti rupiah, sejumlah mata uang Asia mengalami penguatan. Yen Jepang misalnya menguat 0,65%, dolar Taiwan menguat 0,15%, peso Filipina menguat 0,27%, won Korea Selatan menguat 0,16%, ringgit Malaysia menguat 0,69%, serta yuan China menguat 0,01%.

Penguatan rupiah pada hari ini melanjutkan tren pada perdagangan kemarin, Kamis (10/4/2025), di mana rupiah ditutup menguat sebesar 49,50 poin atau 0,29% ke level Rp16.823 per dolar AS.

Penguatan rupiah sejak kemarin terjadi seiring dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump atas tarif impor AS. Trump menunda pemberlakukan skema tarif impor timbal balik (reciprocal tariff) selama 90 hari sebagai tanggapan atas pendekatan dari puluhan negara. Trump juga menaikkan pungutan impor China menjadi 125%.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.750 - Rp16.830 per dolar AS.

Terdapat sejumlah sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah. Dari luar negeri, pasar mengurangi beberapa ekspektasi untuk resesi AS. Namun, prospek ekonomi jangka pendek tetap tidak pasti. Pasar juga masih khawatir atas risiko perang dagang antara AS dan China.

Kemudian, risalah rapat The Fed pada Maret 2025 menunjukkan para pembuat kebijakan gelisah atas inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.

Dari dalam negeri, geopolitik di Timur Tengan dan Eropa yang semakin memanas dibarengi dengan genderang perang dagang dapat meningkatkan ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi ekonomi Indonesia, terutama pada fluktuasi nilai tukar rupiah.

Walaupun pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar guna untuk menstabilkan mata uangnya, namun terdapat keterbatasan baik pemerintah dan BI dalam mengatasi ketidakpastian ekonomi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ibad Durrohman
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper