Bisnis.com, JAKARTA - Bursa Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Rabu (26/2/2025) waktu setempat di tengah ancaman tarif baru dan fokus investor yang menanti rilis laporan Keuangan perusahaan produsen Chip NVidia.
Melansir Reuters pada Kamis (27/2/2025), indeks Dow Jones Industrial Average terpantau turun 165,41 poin atau 0,37% ke 43.457,58. Kemudian, indeks S&P 500 turun 3,69 poin atau 0,06% ke level 5.951,60 dan Nasdaq Composite naik tipis 4,39 poin atau 0,03% ke 19.030,78.
Produsen chip dan pemain penting dalam kecerdasan buatan (AI), Nvidia melaporkan pendapatan kuartalannya pada Rabu waktu setempat, yang dapat memberikan kejelasan tentang permintaan dan membenarkan atau melemahkan valuasi tinggi sektor ini.
Skeptisisme investor telah meningkat terhadap miliaran dana yang disalurkan perusahaan teknologi AS ke infrastruktur AI karena lambatnya pembayaran dan terobosan di DeepSeek China.
“Tanda-tanda kelemahan apa pun dalam laporan Nvidia dapat berdampak besar pada sentimen investor terhadap saham AI secara keseluruhan,” kata kepala strategi investasi global Saxo, Jacob Falkencrone.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pemerintahannya akan segera mengumumkan tarif 25% terhadap impor dari Uni Eropa. Dia juga meningkatkan harapan akan adanya jeda lagi terhadap tarif baru yang tinggi terhadap impor dari Meksiko dan Kanada.
Baca Juga
Trump mengatakan, tarif tersebut akan berlaku pada tanggal 2 April, sekitar satu bulan lebih lambat dari batas waktu minggu depan.
Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat AS yang dikuasai Partai Republik pada Selasa malam meloloskan rencana pemotongan pajak Trump sebesar US$4,5 triliun, dan mengirimkan resolusi anggaran ke Senat, di mana Partai Republik diperkirakan akan menyetujuinya.
“Ini terutama baik bagi korporasi AS,” kata Lars Skovgaard, ahli strategi investasi senior di Danske Bank.
Skovgaard memperkirakan akan ada lebih sedikit peraturan dan pemotongan pajak. Dia mengatakan, rencana tersebut akan terealisasi dan akan berdampak positif bagi pasar.
Sementara itu, data perumahan AS menunjukkan penjualan rumah baru turun tajam pada bulan Januari karena tingginya suku bunga hipotek yang terus-menerus mengesampingkan calon pembeli rumah. Data tersebut merupakan yang terbaru yang mengisyaratkan berkurangnya permintaan konsumen.