Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bitcoin Cetak Rekor Lagi! Tembus US$60.000, Pertama Kali sejak November 2021

Harga bitcoin pertama kalinya melampaui US$60.000 sejak November 2021.
Ilustrasi Bitcoin. Reuters
Ilustrasi Bitcoin. Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga Bitcoin telah melonjak hingga 13% mencapai US$63.968 dan menjadi momentum pertama kalinya dalam melampaui US$60.000 sejak November 2021.

Harga tersebut telah tersentuh pada Rabu (28/2/2024) yang kemudian membuat Bitcoin melonjak 40% pada tahun ini. Lonjakan tersebut sebagian besar dikarenakan peluncuran ETF Bitcoin spot di bursa Amerika Serikat (AS).

"Ini cukup gila," jelas kepala derivatif di pialang utama aset digital FalconX, Ryan Kim, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (29/2).

Peristiwa halving kemudian menambahkan sentimen optimis. Dengan halving pada April 2024, di mana pasokan akan berkurang di tengah lonjakan permintaan dari ETF, selera spekulatif kemudian dapat meningkat pada Bitcoin. 

Tak hanya itu, hal tersebut juga meluas pada token yang lebih kecil, contohnya seperti Ether hingga Dogecoin.

“Kami mulai melihat reli FOMO yang cukup jelas,” jelas  pendiri dana kripto Split Capital, Zaheer Ebtikar. Dia juga mengatakan bahwa semakin banyak orang yang yakin untuk membeli.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap, volume perdagangan Bitcoin melonjak hingga lebih dari US$79 miliar, atau hampir 60% dalam 24 jam terakhir. 

Kenaikan yang signifikan membuat Bitcoin menuju keuntungan bulanan terbesarnya sejak Desember 2020, ketika token digital tersebut melonjak 50% menjadi sekitar US$9,600.

Di lain sisi, token digital tampak melonjak walaupun investor telah mengurangi ekspektasi pada kebijakan moneter yang lebih longgar pada 2024, yang terbukti dengan kenaikan imbal hasil Treasury AS. Pada tahun ini Bitcoin juga telah mengungguli aset tradisional seperti saham dan emas.

“Pembalikan ini semakin mengesankan mengingat bank-bank sentral mengisyaratkan bahwa mereka berniat untuk mempertahankan suku bunga tinggi untuk sementara waktu, mengikis teori bahwa kenaikan kripto berikutnya akan didorong oleh penurunan suku bunga," jelas salah satu pendiri di perusahaan perdagangan kuantitatif Dexterity Capital, Michael Safai.

Namun, cepatnya reli tersebut membuat beberapa pengamat memperingatkan bahwa hal ini membuat investor lebih rentan terhadap siklus boom and bust yang telah menjadi ciri khas dari kripto. 

Pendiri di dana lindung nilai (hedge fund) kripto AnB Investments, Jaime Baeza, mengatakan bahwa pergerakkan saat ini sangat tajam dan leverage sangat tinggi. Oleh karena itu, dia mengatakan tidak akan terkejut dengan koreksi tajam, atau 20% dan selebihnya. 

"Namun, saya tidak akan melakukan shorting karena reli ini terus bergerak dengan kecepatan seperti ini,” terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper