Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Perkasa ke Rp15.515, ketika Dolar AS sedang Loyo

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat ke level Rp15.515 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa, (9/1/2024).
Karyawati menghitung mata uang Dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Senin (14/8/2023). Bisnis/Suselo Jati
Karyawati menghitung mata uang Dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Senin (14/8/2023). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat ke level Rp15.515 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa, (9/1/2024). Mata uang Asia terpantau bervariasi, sedangkan indeks dolar AS melemah pagi ini. 

Mengacu data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan kenaikan 0,07% atau 10,5 poin ke level Rp15.515 per dolar AS. Adapun indeks mata uang Negeri Paman Sam melemah 0,03% ke posisi 102,17. 

Sejumlah mata uang kawasan Asia lainnya terpantau bervariasi. Mata uang yang melemah terhadap dolar AS, misalnya dolar Hongkong melemah 0,02%, peso Filipina turun 0,04%, dan yuan China turun 0,14%.

Sementara itu mata uang Asia yang masih kebal terhadap dolar AS yakni yen Jepang melesat 0,50%, dolar Singapura naik 0,07%, dolar Taiwan naik 0,13%, won Korea naik 0,41%, dan ringgit Malaysia naik 0,23%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.510-Rp15.550.

Menurut Ibrahim, para pelaku pasar mengurangi taruhan bahwa The Fed akan memangkas suku bunganya secepatnya pada bulan Maret 2024.

Gagasan tersebut diperburuk oleh data nonfarm payrolls yang lebih kuat dari perkiraan pada Jumat (5/1/2024) yang menunjukkan ketahanan di pasar tenaga kerja yang memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. 

"Inflasi AS menjadi fokus setelah data nonfarm payrolls mengejutkan, pasar kini fokus pada data utama inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS untuk bulan Desember, yang akan dirilis pada Kamis (11/1) pekan ini," ujar Ibrahim dalam riset, Selasa (9/1/2024). 

Dia mengatakan, alat CME Fedwatch menunjukkan para pelaku pasar menarik kembali ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga pada Maret 2024. Para pelaku pasar sekarang memperkirakan peluang sekitar 63% untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin di bulan Maret, turun dari peluang lebih dari 73% yang diperkirakan pada minggu lalu.

Dari sentimen domestik, inflasi di Indonesia masih terkontrol. Inflasi tercatat berada di angka 2,61% berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2023. Meskipun begitu, inflasi yang dimaksud adalah inflasi secara umum dan berbeda dengan inflasi pangan. 

Namun di sisi lain, menurutnya rasa optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2024 semakin meningkat di kalangan pengusaha dan masyarakat ketika memasuki tahun politik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper