Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Tak Bertenaga Jelang BI Umumkan Suku Bunga

Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.520 di hadapan dolar jelang pengumuman suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) hari ini.
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah dibuka tak bertenaga ke posisi Rp15.520 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis, (21/12/2023). Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi sentimen jelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Desember 2023.  

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, mata uang rupiah dibuka melemah 0,06% atau 9 poin ke level Rp15.520 per dolar AS. Sementara itu, indeks mata uang Negeri Paman Sam juga terpantau turun 0,11% ke posisi 102,29.  

Adapun, mata uang kawasan Asia mayoritas terpantau menguat pagi ini. Misalnya, yen Jepang naik 0,42%, dolar Singapura naik 0,20%, dolar Hongkong naik 0,02%, dolar Taiwan menguat 0,05%, ringgit Malaysia naik 0,15, dan baht Thailand naik 0,06%.

Sementara itu, mata uang Asia yang masih melemah terhadap dolar AS selain rupiah yaitu won Korea melemah 0,21% dan yuan China terkoreksi 0,09%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah akan cenderung fluktuatif namun berpeluang ditutup menguat di rentang Rp15.490- Rp15.550 per dolar AS.

Adapun, pada pekan ini 20-21 Desember 2023, Bank Indonesia (BI) menggelar rapat dewan gubernur (RDG) untuk memutuskan kebijakan moneter dalam negeri. BI diperkirakan mengikuti keputusan sejumlah bank sentral lainnya dengan menahan suku bunga acuan di level saat ini 6%.

Ibrahim mengatakan jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) diproyeksikan akan meningkat cukup tinggi pada pesta demokrasi 2024. Selama empat bulan sebelum pemilu dan satu bulan setelah pemilu, tren M2 sejak Pemilu 2004 selalu meningkat

Sebelumnya, pada pemilu 2014 mencapai Rp165,5 triliun, dan pasar 2019 mencapai Rp189,7 triliun. Jika ditelusuri lebih jauh lagi, M2 dalam pemilu 2004 meningkat Rp14,8 triliun. Sementara pada pemilu 2009, M2 meningkat Rp82,7 triliun.

“Artinya, bila sesuai dengan proyeksi, uang beredar pada pemilu 2024 akan naik lebih tinggi dari sebelumnya, akan tembus setidaknya di angka Rp219,7 triliun,” kata Ibrahim dalam riset dikutip Kamis, (21/12/2023).

Sementara itu, dari sentimen eksternal, pelaku pasar masih menimbang sinyal Bank Sentral Federal Reserve yang mengisyaratkan telah selesai menaikkan suku bunga dan akan menurunkan suku bunga pada tahun 2024.

Goldman Sachs memperkirakan akan ada lima pemotongan suku bunga The Fed pada 2024, dengan sebagian besar pemotongan tersebut berpotensi dilakukan pada paruh pertama tahun ini. 

Pasar berjangka AS menunjukkan para pedagang memperkirakan peluang lebih dari 67% untuk penurunan 25 basis poin pada Maret 2024. Bank sentral juga diperkirakan akan memangkas suku bunga lebih lanjut pada April dan Mei tahun depan.

Adapun di Asia, Bank Rakyat China (PBOC) mempertahankan suku bunga pinjamannya tidak berubah pada rekor terendah. Meskipun langkah ini sudah diperkirakan secara luas, hal ini menyoroti betapa kecilnya ruang gerak yang dimiliki PBOC untuk menjaga kebijakan tetap longgar dan mendukung pemulihan ekonomi di China.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper