Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Usai Pidato The Fed, Analis DCFX Ungkap Harga Emas Sangat Volatil

Harga emas mulai mengalami penguatan setelah turun tiga hari beruntun, usai pidato ketua Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) Jerome Powel
Pegawai menunjukan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Rabu (2/8/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai menunjukan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Rabu (2/8/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas mulai mengalami penguatan setelah turun tiga hari beruntun, usai pidato ketua Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) Jerome Powel kemarin, Kamis (9/11/2023) yang menegaskan perlunya suku bunga yang lebih tinggi untuk mengendalikan inflasi.

Analis Deu Calion Futures (DCFX) Andrew Fischer mengatakan harga emas tampaknya akan sangat volatil. Kenaikan harga emas kemarin bersifat jangka pendek, jelas Fischer. Sedangkan, analisis jangka Panjang menunjukkan kecenderungan penurunan harga emas, serta perbandingan harga yang masih lebih rendah dari harga tertinggi sebelumnya.

Fischer mengatakan, pada perdagangan Kamis (9/11/2023), harga emas di pasar spot ditutup dengan kenaikan 0,43% di posisi US$1.958,19 per troy ons. Kenaikan tersebut diharapkan menjadi sinyal positif setelah penurunan tiga hari sebelumnya.

Sementara itu, pada perdagangan hari ini, Jumat (10/11/2023) pukul 06.00 WIB, harga emas di pasar spot bergerak stagnan di posisi US$1.958,22 per troy ons dengan kenaikan tipis sebesar 0,002%.

Adapun, soal pidato Powell terkait perlunya suku bunga yang lebih tinggi untuk mengendalikan inflasi, Fischer menjelaskan, para analis mencatat bahwa banyak pelaku pasar mengasumsikan siklus kenaikan suku bunga mungkin telah berakhir. Sedangkan, beberapa pejabat The Fed mengisyaratkan sebaliknya, mengingat perekonomian AS yang tetap kuat.

Di sisi lain, harga emas kemungkinan masih berada di bawah US$2.000 per ons sepanjang tahun 2023, dengan pengaruh besar dari geopolitik. Emas batangan turun lebih dari US$40 setelah mencapai US$2.000 per ons minggu lalu, kata Fischer, utamanya disebabkan peningkatan ketegangan di Timur Tengah yang mendorong aliran masuk ke aset safe-haven.

"Emas bergerak di atas US$2.100 pada kuartal kedua tahun 2024, dan katalis utamanya adalah perlunya The Fed untuk memulai penurunan suku bunga. Pelaku pasar juga mengamati pernyataan hawkish Powell, sambil mencatat bahwa pergerakan emas masih didorong oleh panasnya konflik di Timur Tengah.” jelas Fischer, Jumat (10/11/2023).

Dari sisi geopolitik, para investor tampaknya masih memberi perhatian terhadap konflik di Timur Tengah. Perkembangan terakhir, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak kesepakatan gencatan senjata selama 5 hari dengan kelompok Hamas di Gaza. Hal tersebut dilakukan sebagai imbalan atas pembebasan beberapa sandera yang ditahan di wilayah itu pada awal konflik.

Terdapat ribuan korban jiwa setelah konflik tersebut, sehingga, Fischer mengatakan hal itu kembali mencuri perhatian serius para investor. (Daffa Naufal Ramadhan)

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Redaksi
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper