Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Ditutup Merana Akhir Pekan Rp15.938, Paling Loyo di Asia

Nilai tukar rupiah hari ini terdepresiasi 0,12% atau 19 poin ke Rp15.938,50 per dolar AS, paling lesu di Asia.
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah hari ini ditutup melemah ke posisi Rp15.938,50 per dolar AS, dengan mata uang Asia lainnya berakhir variatif di hadapan dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (27/10/2023), nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,12% atau 19 poin ke Rp15.938,50 per dolar AS. Indeks greenback yang mengukur kekuatan dolar di hadapan mata uang utama cenderung stabil di 106,61.

Sementara itu, yen Jepang tampak menguat 0,22%, won Korea Selatan menguat 0,29%, yuan China stagnan 0,00%, dan ringgit Malaysia menguat 0,17%. Adapun rupee India melemah tipis 0,01%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen laporan mengenai militer AS menyerang sasaran-sasaran yang terkait dengan Iran di Suriah memicu kembali aliran dana ke aset-aset safe haven.

Menurut Pentagon, serangan tersebut, yang dilakukan terhadap dua fasilitas di Suriah Timur, merupakan pembalasan atas serangan baru-baru ini terhadap pasukan AS di Irak dan Suriah.

Pentagon juga mengatakan bahwa serangan terhadap pasukan AS telah meningkat sejak dimulainya konflik Israel-Hamas awal bulan ini. Berita ini meningkatkan kekhawatiran atas eskalasi konflik Timur Tengah yang lebih luas, yang berpotensi menarik lebih banyak kekuatan Arab.

“Pertemuan Fed, data inflasi menjadi fokus, meskipun bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil, bank sentral juga diperkirakan akan mengulangi rencananya untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” kata Ibrahim dalam risetnya, Jumat (27/10/2023).

Namun, kata Ibrahim, investor akan menyoroti data pembacaan indeks pengeluaran konsumsi pribadi ukuran inflasi pilihan The Fed pada Jumat waktu setempat. Tanda-tanda inflasi AS yang stagnan memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi.

“Tanda-tanda ketahanan perekonomian AS, menyusul data produk domestik bruto [PDB] AS yang lebih kuat dari perkiraan untuk kuartal ketiga, juga memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunganya lebih tinggi,” jelas Ibrahim.

Dari sentiment domestik, kata Ibrahim, pemerintah optimistis ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2023 masih akan tumbuh di atas 5 persen, yaitu akan tumbuh 5,1 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ekonomi tersebut diperkirakan melambat jika dibandingkan dengan capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2023 yang sebesar 5,17% yoy.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2023 akan didukung oleh konsumsi domestik yang meningkat, seiring dengan aktivitas menjelang Pemilu, serta inflasi yang relatif terkendali. Selain itu, investasi bangunan dan nonbangunan mulai dalam tren meningkat seiring dengan progres penyelesaian pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Dari sisi manufaktur, PMI manufaktur Indonesia juga masih ekspansif pada level 53,3 pada September 2023. Konsumsi listrik pada periode yang sama tumbuh positif 0,4% meski melambat. Indeks penjualan riil pada September 2023 juga masih tumbuh positif meski melambat menjadi sebesar 1%.

Sejalan dengan pemerintah, lanjut Ibrahim, lembaga-lembaga internasional juga memperkirakan ekonomi Indonesia masih resilien di kisaran angka 5 persen tahun ini. Semisal, IMF menyampaikan proyeksi 5 persen, Bank Dunia 5 persen, OECD masih lebih rendah sedikit 4,9 persen, sedangk Bloomberg konsensus Indonesia memperkirakan tahun ini tumbuh di 5 persen.

Ibrahim memprediksi rupiah akan fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp15.910- Rp15.970 per dolar AS pada perdagangan Senin (30/10/2023) pekan depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper