Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Ditutup Menguat Lawan Dolar AS, The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga

Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke Rp15.230 per dolar AS seiring dengan proyeksi The Fed tidak agresif mengerek suku bunga ke depan.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke Rp15.230 per dolar AS seiring dengan proyeksi The Fed tidak agresif mengerek suku bunga ke depan. JIBI/Himawan L Nugraha. rn
Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke Rp15.230 per dolar AS seiring dengan proyeksi The Fed tidak agresif mengerek suku bunga ke depan. JIBI/Himawan L Nugraha. rn

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke Rp15.230 per dolar AS. Rupiah ditutup menguat bersama sebagian besar mata uang Asia lainnya. 

Mengutip data Bloomberg, Kamis (31/8/2023) pukul 15.15 WIB, nilai tukar rupiah menguat 0,07 persen atau 10,5 poin ke Rp15.230 per dolar AS. Penguatan rupiah terjadi ketika indeks dolar menguat 0,21 persen ke 103,37.

Adapun beberapa mata uang kawasan Asia yang menguat hari ini adalah yen Jepang naik 0,26 persen, dolar Hong Kong naik 0,05 persen, won Korea Selatan menguat 0,04 persen, dan peso Filipina menguat 0,26 persen.

Kemudian rupee India menguat 0,10 persen, ringgit Malaysia naik 0,16 persen, dan baht Thailand naik 0,28 persen. Sementara itu, mata uang Asia lainnya seperti dolar Singapura melemah 0,11 persen, dolar Taiwan turun 0,08 persen, dan yuan China turun 0,04 persen. 

Sebelumnya, Macro Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi memperkirakan rupiah berpotensi melanjutkan apresiasi ke rentang Rp15.150-Rp15.250 hari ini. 

"Hal ini akibat pelemahan indeks dolar 0,4 persen menjadi 103,2 semalam," kata Lionel dalam risetnya, Kamis (31/8/2023). 

Menurutnya, sentimen datang dari pertumbuhan PDB kuartal II/2023 AS yang direvisi turun menjadi 2,1 persen secara kuartal ke kuartal.

Walaupun momentum pertumbuhan ekonomi kuartal II/2023 lebih lemah daripada ekspektasi awal, para ekonom memperkirakan momentum pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat masih akan tetap kuat di kuartal III/2023. Oleh karena itu, potensi terjadinya soft landing atau penurunan inflasi tanpa resesi masih cukup tinggi.

Dari dalam negeri sentimen datang dari pertumbuhan uang beredar M2 naik tipis di bulan Juli menjadi 6,4 persen yoy.

Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya pertumbuhan suplai uang beredar M1 yang terdiri atas tabungan, uang elektronik, dan uang kartal (tunai) menjadi 6,2 persen yoy. Sedangkan, pertumbuhan uang kuartal turun tajam menjadi 3,8 persen yoy.

Laporan Monex Investindo Futures menyebutkan rilis data dari Amerika Serikat (AS) kemarin menekan dolar AS. Data penyerapan tenaga kerja diluar sektor pertanian versi Automatic Data Processing Inc. (ADP) dilaporkan sebanyak 177.000 orang pada Agustus, jauh lebih rendah dari 371.000 orang dan di bawah forecast Trading Central 210.000 orang.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi (gross domestic product/GDP) kuartal II/2023 perhitungan kedua dilaporkan tumbuh 2 persen (quarterly annualized), lebih rendah dari pengukuran pertama 2,4 persen.

"Rilis kedua data tersebut menguatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga lagi," papar Monex dalam publikasi risetnya, Kamis (31/8/2023).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper