Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Ditutup Merosot Akibat Hantu Resesi di Eropa

Investor menarik dana US$5 miliar dari saham global dalam seminggu dan menambahkan US$5,4 miliar ke pasar obligasi.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street, New York jatuh pada akhir perdagangan Jumat (23/6/2023) waktu setempat. Pasar saham AS mencatat minggu terburuk sejak Maret 2023 karena kecemasan investor meningkat perihal bank sentral yang harus menaikkan suku bunga lebih tinggi untuk meredam inflasi.

Berdasarkan data Bloomberg, Sabtu (24/6/2023), Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,65 persen atau 219,28 poin ke 33.727,43, S&P 500 tergelincir 0,77 persen atau 33,56 poin ke 4.348,33, dan Nasdaq anjlok 1,01 persen atau 138,09 poin ke 13.492,52.

Investor mengambil untung atau profit taking pada saham-saham teknologi. Saham produsen chip Marvell Technology Inc. dan GlobalFoundries Inc. berada di zona merah, sementara penurunan di Microsoft Corp. dan Nvidia Corp. membebani indeks.

Reli saham kuartal II/2023, yang dipicu oleh hiruk pikuk saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), bergolak di bawah ancaman kenaikan suku bunga yang lebih banyak dan kekhawatiran bahwa dampak ekonomi dari kebijakan bank sentral yang agresif belum terasa.

“Tanpa narasi AI, pasar saham akan jauh lebih terguncang. Di bawah permukaan, rata-rata saham hanya naik beberapa persen tahun ini. Manajer portofolio mengalami kesulitan mengalahkan S&P tahun ini,” kata Senior Equity Strategist Federated Hermes Linda Duessel, mengutip Bloomberg.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell meredam suasana minggu ini ketika dia mengatakan AS mungkin memerlukan satu atau dua kenaikan suku bunga lagi pada 2023. Sementara pejabat Fed lainnya menolak harapan investor untuk penurunan suku bunga tahun ini.

“Saya merasa nyaman dengan informasi yang saya miliki hari ini, tetap di tempat kita sekarang dan hanya tinggal di sini selama sisa tahun ini dan hingga tahun depan,” kata Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic.

Data ekonomi dari Jerman dan Prancis memicu kekhawatiran penurunan di Eropa, mendorong obligasi pemerintah AS untuk mengambil bagian dalam reli pasar obligasi global karena investor mencari tempat berlindung yang aman.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen berusaha meredam kekhawatiran atas resesi AS, dia mengakui risikonya dan mengatakan perlambatan belanja konsumen diperlukan. Sementara itu, indeks manajer pembelian manufaktur AS turun menjadi 46,3 pada Juni dari 48,4 periode sebelumnya. Level tersebut merupakan yang terendah sejak Desember 2022.

“Ada konsistensi di seluruh ekonomi global setidaknya dalam satu hal, yakni manufaktur tetap dalam mode resesi. Menurut kami data ini tidak memiliki implikasi langsung untuk keputusan The Fed pada Juli, untuk itu pasar akan melihat ke non-farm payroll (NFP) dan consumer price index (CPI). Meskipun demikian, data manufaktur terbaru merupakan rilis yang mengecewakan,” kata Ian Lyngen dari BMO Capital Markets.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun pada Jumat, sebanyak 10 basis poin. Spread antara obligasi tenor 2 tahun dan 10 tahun melebar menjadi lebih dari 1 persen. Pembalikan tersebut dianggap sebagai sinyal resesi.

Kepala Investasi Horizon Investments Scott Ladner mengatakan reli obligasi terbelah oleh kekhawatiran pertumbuhan dengan PMI Manufaktur flash Eropa terbaru yang melemah.

Kekhawatiran tentang prospek ekonomi tercermin dalam rotasi aliran dana investor yang masuk ke dalam obligasi dan keluar dari saham dalam data mingguan. Investor menarik dana US$5 miliar dari saham global dalam seminggu hingga Rabu (21/6/2023) dan menambahkan US$5,4 miliar ke pasar obligasi.

“Saham AS menghadapi lebih banyak penurunan daripada kenaikan selama dua bulan ke depan karena bank dan perusahaan properti masih memiliki getaran resesi yang buruk,” kata ahli strategi Bank of America yang mengutip data EPFR Global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper