Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kimia Farma (KAEF) Sebut Laba Bersih Mengalir ke INA-SRF per Kuartal I/2023

PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) menjelaskan salah satu penyebab penurunan laba bersih bagi pengendali akibat INA dan SRF yang memegang saham perusahaan.
PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) menjelaskan salah satu penyebab penurunan laba bersih bagi pengendali akibat INA dan SRF yang memegang saham perusahaan. /Bisnis-Noli Hendra
PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) menjelaskan salah satu penyebab penurunan laba bersih bagi pengendali akibat INA dan SRF yang memegang saham perusahaan. /Bisnis-Noli Hendra

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten BUMN farmasi, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) menjelaskan salah satu penyebab penurunan laba bersih bagi pengendali akibat Indonesia Investment Authority (INA) dan Silk Road Fund (SRF) yang memiliki 40 persen saham per kuartal I/2023.

Direktur Utama Kimia Farma David Utama mengatakan laba bersih emiten plat merah tersebut harus dibagikan kepada INA dan SRF yang memegang 40 persen saham usai melalui (HMETD) atau rights issue sebesar Rp333,23 miliar.

“Jadi karena investor ada 40 persen otomatis 40 persen bagian dia dong,” ujarnya di Jakarta, Rabu (31/5/2023).

Lebih lanjut, dia mengatakan INA menggandeng SRF sebagai partner untuk memenuhi kebutuhan dari Kimia Farma. Salah satu bentuknya adalah menjajaki kerjasama dengan perusahaan asing di China dan Korea Selatan.

Menurutnya INA dapat membantu Kimia Farma dengan memberikan pengetahuan untuk menjaga profil keuangan Kimia Farma. Sementara, itu Kimia Farma akan lebih fokus pada operasional.

Dalam menjaga operasional, dia menyebut Kimia Farma akan meningkatkan bisnis dan fungsi bisnis yang dikelola selama 2 tahun ke depan. Setelahnya Kimia Farma dapat mengembangkan investasi dalam rangka ekspansi.

Kimia Farma berencana untuk masuk ke dalam ekosistem kesehatan Indonesia. Dia mencontohkan Kimia Farma yang sudah masuk dalam ekosistem korporasi seperti Livin’ Mandiri.

Sebagai informasi, Kimia Farma membukukan jumlah laba tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk hanya Rp386,49 juta turun 93 persen dibandingkan dengan Rp5,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun, laba kepentingan non pengendali tercatat tumbuh drastis menjadi Rp24,24 miliar pada kuartal I tahun 2023 berbanding dengan rugi Rp3,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kimia Farma membukukan pertumbuhan penjualan 1,9 persen menjadi Rp2,3 triliun pada kuartal I/2023. Kinerja positif ini sejalan meningkatnya pendapatan baik dari pasar domestik maupun ekspor. 

Realisasi penjualan ekspor Kimia Farma sepanjang Januari hingga Maret 2023 tumbuh 77 persen menjadi Rp33,11 miliar. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, produk-produk unggulan yang dihasilkan oleh perseroan dipasarkan ke berbagai belahan dunia yakni Asia, Eropa, Australia, Afrika dan Amerika.

Kinerja positif juga tecermin dari kenaikan kontribusi dari penjualan produk over the counter (OTC) dan kosmetik yang meningkat signifikan menjadi Rp66,46 miliar. Selain itu, kontribusi produk etikal juga meningkat menjadi Rp774,14 miliar hingga akhir Maret 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper