Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Dirut Garuda (GIAA) Ungkap Strategi Ciamik supaya Masuk InJourney

Garuda Indonesia (GIAA) fokus memperkuat fundamental kinerja pada kuartal I/2023 dengan menjaga stabilitas cash flow.
Artha Adventy
Artha Adventy - Bisnis.com 16 Februari 2023  |  12:20 WIB
Dirut Garuda (GIAA) Ungkap Strategi Ciamik supaya Masuk InJourney
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia terparkir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (21/6/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) optimistis peluang masuk InJourney dapat segera terealisasi didukung penguatan cash flow hingga kuartal I/2023. 

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengklaim saat ini kinerja usaha emiten yang dipimpinnya semakin posistif seiring dengan pulihnya iklim industri penerbangan dan pariwisata. 

“Hal ini yang kami yakini akan menjadi fundamen penting dalam upaya akselerasi kinerja khususnya mendukung langkah optimalisasi kinerja keuangan Garuda Indonesia. Oleh karena itu, dengan landasan kinerja yang semakin solid Ini kami tentunya melihat opportunity bergabung dengan InJourney dapat segera direalisasikan,” katanya menjawab pertanyaan Bisnis, Rabu (15/2/2023).

Dengan kondisi saat ini yaitu meningkatnya permintaan penerbangan baik domestik maupun internasional serta didukung oleh situasi pandemi yang mulai masuk ke fase endemi, GIAA menyebut optimistis performa kinerja tahun 2023 akan membaik. 

“Untuk saat ini kami fokus memperkuat fundamental kinerja pada kuartal I/2023 dengan menjaga stabilitas cash flow yang selaras terhadap pencapaian di bulan-bulan sebelumnya yang mulai menunjukkan peningkatan yang menjanjikan,” jelasnya. 

Irfan menyebutkan pada 2023 Garuda Indonesia Group menargetkan mampu mengoperasikan armada sedikitnya 124 unit yang terdiri 66 pesawat dari Garuda Indonesia dan anak usaha Citilink yang turut menargetkan pengoperasian sejumlah 58 pesawat.

“Penambahan jumlah armada yang beroperasi tersebut diupayakan dari implementasi program restorasi pesawat yang menjadi porsi utama dari pemanfaatan Penyertaan Modal Negara (PMN) dari Pemerintah senilai Rp7,5 triliun,” lanjutnya. 

Selain itu, langkah optimalisasi kapasitas produksi, penyesuaian rute dan frekuensi penerbangan berdasarkan preferensi masyarakat akan terus dilakukan agar mampu menopang kebutuhan mobilitas masyarakat utamanya antarwilayah di Indonesia. 

“Untuk pengembangan rute di Timur Indonesia juga akan ditunjang dari ketersediaan layanan penerbangan Ciitlink yang akan menjangkau lebih luas destinasi di Indonesia Timur maupun kawasan ekonomi baru yang diproyeksikan akan semakin berkembang,” jelas Irfan. 

GIAA optimistis dengan kembalinya geliat aktivitas perjalanan terutama pada periode peak season dapat dioptimalkan untuk mengejar pendapatan usaha yang sempat menantang pada tahun-tahun yang lalu. 

Sementara itu, dari sisi layanan kargo dan ancillary revenue juga terus akan ditingkatkan baik melalui perluasan jaringan penerbangan kargo, inisiatif layanan terbaru yang membawa nilai tambah bagi pengguna jasa, serta program kolaborasi yang menghasilkan produk tematik eksklusif.

“Melihat antusiasme masyarakat yang mulai melakukan perjalanan dengan transportasi udara serta dukungan Pemerintah atas pelonggaran PPKM menjadi fundamen kami untuk kembali memperluas jaringan konektivitas penerbangan terutama pada rute domestik yang memiliki demand besar sekaligus menjadi hub penerbangan internasional,” jelasnya. 

Prioritas GIAA saat ini, kata Irfan, adalah bagaimana operasional mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah tantangan jumlah armada yang terbatas. Sehingga GIAA akan mengoptimalkan armada yang tersedia dengan skema penyesuaian frekuensi dan jenis pesawat untuk setiap rute yang beroperasi. 

“Hal tersebut turut mempertimbangkan potensi pendapatan yang dapat diraih dan untuk mengurangi beban biaya operasional yang dapat timbul karena kurang optimalnya tingkat keterisian pesawat,” imbuhnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia InJourney BUMN
Editor : Farid Firdaus

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top