Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Jatuh, Saham Apple dan Microsoft Merosot

Penurunan di saham Apple Inc. dan Microsoft Corp. membebani Nasdaq dan S&P 500.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street, New York jatuh pada akhir perdagangan Senin (31/1/2023) waktu setempat karena investor berhati-hati memasuki pekan penting yang mencakup keputusan suku bunga Federal Reserve.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,77 persen atau 260,99 poin ke 33.717,09, S&P 500 ambles 1,30 persen atau 52,79 poin ke 4.017,77, dan Nasdaq anjlok 1,96 persen atau 227,90 poin ke 11.393,81.

Nasdaq 100 mengalami hari terburuk sejak 22 Desember 2022 sementara S&P 500 turun paling parah sejak 18 Januari 2023. Penurunan di saham Apple Inc. dan Microsoft Corp. membebani kedua indeks karena investor menunggu pendapatan dari perusahaan termasuk Alphabet Inc. dan Meta Platforms Inc. minggu ini.

Setelah bel penutupan, NXP Semiconductors NV menawarkan perkiraan pendapatan untuk kuartal pertama yang meleset dari estimasi rata-rata analis. Sementara itu, Whirlpool Corp. memperkirakan penurunan penjualan tahun ini.

Treasuries memangkas penurunan sebelumnya, dengan imbal hasil tenor 10 tahun sekitar 3,54 persen. Indeks dolar naik. Minyak jatuh ke level terendah dalam hampir tiga minggu.

The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada Rabu (1/2/2023), memperlambat langkahnya untuk sesi kedua berturut-turut. Namun, para investor akan memperhatikan nada pejabat yang ditetapkan untuk pertemuan mendatang.

Ketua Fed Jerome Powell terus melawan perkiraan pelaku pasar yang mengantisipasi penurunan suku bunga akhir tahun ini, menekankan bahwa dia tidak akan bergerak sampai inflasi mereda secara signifikan.

“Investor tampaknya telah melupakan aturan utama 'Jangan Melawan The Fed.' Mungkin minggu ini akan berfungsi sebagai pengingat. Investor yang menambah reli saham bulan ini akan kecewa jika mereka menentang langsung The Fed,” kata tim ahli strategi Morgan Stanley yang dipimpin oleh Michael Wilson menulis dalam sebuah catatan.

Kristen Bitterly dari Citi Global Wealth juga menegaskan hal ini. Menurutnya reli bulan Januari bersifat teknis karena sebagian besar didorong oleh laggards & loser tahun 2022.

Pedagang menunggu laporan pekerjaan AS akhir pekan ini. Pasar tenaga kerja yang tidak terlalu ketat adalah tujuan utama The Fed. Investor juga telah menguraikan sejumlah laporan pendapatan, dengan lebih banyak lagi yang akan datang sepanjang minggu ini. Tanda-tanda tekanan pendapatan telah meningkatkan kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi dan prospek pasar saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper