Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Valuasi di Bawah Kompetitor, Ini Analisa MNC buat Rights Issue BBTN

MNC Sekuritas memandang valuasi BBTN jelang rights issue masih lebih rendah dibandingkan dengan para kompetitornya.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 30 November 2022  |  12:30 WIB
Valuasi di Bawah Kompetitor, Ini Analisa MNC buat Rights Issue BBTN
Pekerja sedang menggarap proyek perumahan yang dibiayai oleh BTN. - Bisnis/Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — MNC Sekuritas memandang valuasi BBTN jelang rights issue masih lebih rendah dibandingkan dengan para kompetitornya.

Analis MNC Sekuritas MNC Sekuritas Tirta Citradi memaparkan rights issue PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) berpotensi menaikkan harga saham plat merah tersebut.

"Pada valuasi saat ini, rights issue BBTN  menarik. Peluang peningkatan lebih besar dibandingkan risiko penurunan harga," kata Tirta dalam riset terbaru MNC Sekuritas, Rabu (30/11/2022).

Menurutnya secara valuasi harga saham BBTN saat ini tergolong murah, yakni dikisaran 0,7 kali price to book value (PBV). Sementara sejumlah bank besar saat ini memiliki valuasi di atas 2 kali PBV atau jauh lebih mahal. Contohnya valuasi BBRI saat ini di atas 2,4 kali, BMRI di atas 2,2 kali, dan BBCA di atas 5 kali PBV.

Saat ini PBV harga saham BBTN di atas Rp2.000. Dibandingkan harga saat ini, maka potensi kenaikan sekitar 31 persen bila saham BBTN kembali ke 1 kali PBV.

Tirta menambahkan tanpa aksi korporasi  valuasi BBTN sudah menarik untuk investasi medium dan jangka panjang. Selain itu, manajemen sudah statement akan memberikan diskon atau harga rights issue akan di bawah harga saham induk.

Tirta sendiri memberikan rekomendasi beli saham BBTN dengan memberi target 12 bulan harga saham BBTN bisa menyentuh harga Rp2.300. Hal ini didasari berbagai faktor fundamental, mulai dari kemampuan BBTN dalam menekan biaya dana sehingga margin bisa meningkat.

"Laba bersih BBTN tumbuh 50,1 persen hingga September 2022. Semua itu berkat kemampuan BBTN mengelola biaya atas dana yang dapat diturunkan secara signifikan sehingga NIM naik hampir 100 bps menjadi 4,51 persen” kata Tirta.

Tirta juga menyoroti inovasi BBTN dengan membidik segmen milenial. Salah satu inovasi tersebut adalah produk KPR rent-to-own (RTO). Program KPR RTO dirasa menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh milenial saat ini. Banyak generasi milenial yang berusia 20-40 tahun belum memiliki rumah, karena belum memiliki uang muka.

“Sebagai market leader di segmen kredit KPR subsidi dengan pangsa pasar mencapai 84 persen, BBTN mencoba untuk penetrasi ke pasar yang baru dengan strategi yang kreatif. Tidak seperti KPR subsidi yang bunganya sudah ditetapkan (capped), bunga KPR RTO bisa disesuaikan dengan profil risiko masing-masing debitur. Ini peluang untuk meningkatkan loan yield bagi BBTN,” tambah Tirta.

Menurutnya suntikan dana segar ini bisa menyehatkan BBTN dari sisi likuiditas. Dengan kenaikan GWM serta suku bunga acuan, maka bank-bank akan cenderung berkompetisi untuk mendapatkan funding dengan cara menaikkan suku bunga deposito.

"Namun kalau right issue berhasil kan BBTN tidak perlu sampai harus agresif menaikkan suku bunga dan dananya bisa digunakan untuk ekspansi di core bisnis BBTN yakni KPR jadi NIM BBTN bisa semakin naik,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

right issue bbtn BUMN perbankan
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top