Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Terdorong Maraknya IPO dan Rights Issue, Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Menguat Akhir Tahun

Nilai tukar rupiah berpotensi menguat pada akhir tahun seiring maraknya penggalangan dana di pasar modal melaui initial public offering (IPO) dan right issue.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 20 November 2022  |  14:15 WIB
Terdorong Maraknya IPO dan Rights Issue, Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Menguat Akhir Tahun
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah berpotensi menguat pada akhir tahun dan pada awal 2023. Potensi penggalangan dana di pasar modal melaui initial public offering (IPO) dan right issue serta perlambatan kenaikan suku bunga menjadi pendorong pergerakan rupiah.

Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip mengemukakan kebijakan Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuan pada rapat dewan gubernur (RDG) 16—17 November 2022 membuat posisi real interest rate Indonesia makin baik di tengah tekanan inflasi yang semakin berkurang.

“Ini akan menjadi daya tarik bagi investor institusional asing untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia,” katanya, Sabtu (19/11/2022).

Sunarsip juga memperkirakan aktivitas penerbitan efek di pasar modal, baik melalui initial IPO dan right issue, masih berlanjut hingga akhir tahun. Perkembangan emisi efek akan menjadi momentum bagi investor asing untuk masuk ke pasar dalam negeri sehingga menambah pasokan valuta asing.

Berdasarkan laporan Bursa Efek Indonesia, terdapat potensi Rp46,9 triliun dana dari IPO dan Rp39,4 triliun dari rights issue dalam pipeline penerbitan pada sisa akhir tahun ini dan pada 2023.

Surnarisp mengatakan terdapat beberapa dari emiten ternama yang berada dalam antrean tersebut, seperti rights issue PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) dengan target dana Rp4,23 triliun dan rights issue PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) senilai Rp3 triliun.

“Kehadiran big name yang berkinerja baik dalam aktivitas bursa seperti ini penting untuk memberikan confidence bagi investor institusional asing terhadap pasar modal dan pasar keuangan Indonesia,” katanya.

Dia melanjutkan bahwa tekanan kenaikan suku bunga The Fed masih akan terjadi sampai akhir 2022, tetapi mulai berkurang pada 2023 seiring dengan ekspektasi normalisasi inflasi. Sementara itu, dari dalam negeri, potensi penguatan nilai tukar rupiah berasal dari faktor berkurangnya tekanan inflasi, membaiknya real interest rate dan meningkatnya aktivitas di pasar modal.

Sunarsip memperkirakan aktivitas di pasar keuangan masih semarak pada 2023. Selain dari IPO dan rights issue, penerbitan obligasi diperkirakan tetap tinggi mengingat terdapat utang korporasi senilai Rp114,8 triliun yang jatuh tempo pada 2023.

“Saya meyakini tidak semua utang jatuh tempo akan dibayar dengan kas mereka tetapi dengan refinancing melalui penerbitan obligasi baru. Jadi saya perkirakan di pasar obligasi akan kembali semarak dengan hadirnya korporasi besar yang masuk ke pasar dan menjadi katalis masuknya investor asing masuk ke pasar dalam negeri,” kata dia.

Kedua faktor eksternal dan internal tersebut akan mendorong masuknya modal asing ke Indonesia dan meningkatkan pasokan valas serta memperkuat nilai tukar rupiah.

IEI lantas memberikan rekomendasi kepada BI agar kebijakan moneternya yang bersifat ahead the curve yang bertujuan memelihara kepercayaan pasar dan mencegah terjadinya capital outflow secara masif.

Pemangku kepentingan di dalam negeri juga perlu mendorong berkembangkan pendalaman pasar keuangan dalam rangka menarik modal asing masuk ke Indonesia sehingga memperkuat pasokan valas.

“Penerbitan efek dari korporasi-korporasi ternama dengan reputasi kinerja yang baik perlu didorong untuk meningkatkan kepercayaan investor pada pasar keuangan di Indonesia,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Ibad Durrohman
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top