Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IPO Blibli (BELI) Diuji Inflasi dan Suku Bunga Tinggi

Blibli.com dinilai cukup berani di tengah sentimen negatif berupa lonjakan inflasi dan tingginya tingkat suku bunga acuan bank sentral. 
Blibli. /Blibli
Blibli. /Blibli

Bisnis.com, JAKARTA – Penawaran perdana (Initial Public Offering /IPO) saham perusahaan e-commerce PT Global Digital Niaga. Tbk atau Blibli.com dinilai cukup berani di tengah sentimen negatif berupa lonjakan inflasi dan tingginya tingkat suku bunga acuan bank sentral. 

Seperti yang diketahui, perusahaan milik Group Djarum tersebut akan menawarkan harga IPO di kisaran Rp410 hingga Rp460 per saham selama periode bookbuilding. Alhasil perseroan akan mengantongi dana hasil IPO sebesar Rp8,17 triliun.

Secara umum, e-commerce masuk pada sektor teknologi yang tergolong growth stocks. Saham growth stock dinilai rentan terpukul sentimen negatif dari tingginya suku bunga. Ini tercermin ketika kebutuhan pendanaan eksternal akan terkena suku bunga lebih tinggi dibanding masa-masa normal.

Selain itu perusahaan teknologi akan terpengaruh dengan angka inflasi karena potensi keuntungan (capital gain) yang dapat diperoleh pelaku pasar dari potensi kenaikan harga saham teknologi bisa tergerus oleh tingginya inflasi.

Pengamat pasar modal dan Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menjelaskan jika IPO yang dilakukan Blibli berada pada momentum yang penuh tantangan.

“Secara teori seharusnya bakal susah, mengingat GOTO sudah turun, saham Bukalapak sudah turun,” kata Teguh menjawab pertanyaan Bisnis, Senin (17/10/2022).

Teguh juga melihat bahwa Blibli tidak agresif melakukan promosi seperti apa yang telah dilakukan GoTo dan Bukalapak sebelumnya.

Mengingat saat ini Blibli masih mengalami kerugian, Teguh menilai strategi yang dapat dilakukan agar Blibli dapat membukukan profit adalah dengan bekerja sama atau menggandeng emiten lain di dalam Grup Djarum. 

Blibli diketahui masih mencatatkan rugi bersih hingga 30 Juni 2022. Berdasarkan prospektusnya, Blibli membukukan pendapatan senilai Rp6,71 triliun. Pendapatan ini meningkat 123,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,99 triliun.

Naiknya pendapatan Blibli ini turut meningkatkan beban pokok pendapatan perseroan 121,7 persen, dari Rp2,7 triliun di 30 Juni 2021, menjadi Rp6,15 triliun di 30 Juni 2022.

Blibli tercatat masih membukukan laba bruto sebesar Rp560,7 miliar, naik 148,5 persen dibandingkan Rp225 miliar per 30 Juni 2021. Blibli juga membukukan rugi usaha sebesar Rp2,4 triliun, meningkat 66,8 persen dibandingkan 30 Juni 2021 sebesar Rp1,44 triliun.

Dengan kinerja tersebut, Blibli membukukan rugi periode tahun berjalan sebesar Rp2,5 triliun di 30 Juni 2022, naik 58,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,57 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Artha
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper