Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penyebab Harga Minyak Anjlok 23 Persen Kuartal III/2022, Efek Dolar AS dan The Fed

Harga minyak WTI tercatat telah terkoreksi 23 persen sepanjang kuartal III/2022 akibat peningkatan suku bunga The Fed yang mengerek dolar AS.
Harga minyak WTI tercatat telah terkoreksi 23 persen sepanjang kuartal III/2022 akibat peningkatan suku bunga The Fed yang mengerek dolar AS. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Harga minyak WTI tercatat telah terkoreksi 23 persen sepanjang kuartal III/2022 akibat peningkatan suku bunga The Fed yang mengerek dolar AS. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia akan mencatatkan pelemahan secara kuartalan untuk pertama kali dalam 2 tahun seiring dengan kekhawatiran pasar terkait perlambatan ekonomi dan menguatnya dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg pada Jumat (30/9/2022), harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat telah terkoreksi 23 persen sepanjang kuartal III/2022. Hingga siang ini, harga minyak WTI diperdagangkan pada kisaran US$81 per barel.

Pelemahan harga minyak utamanya disebabkan oleh komitmen The Fed untuk terus melakukan peningkatan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Hal ini memicu kekhawatiran pasar terkait prospek permintaan minyak ke depannya.

Selain itu, mata uang dolar AS juga mencatatkan kenaikan selama beberapa waktu belakangan. Mata uang dolar AS juga membukukan level tertinggi pada awal September ini yang semakin memperkuat sentimen bearish untuk minyak.

Sementara itu, pemulihan ekonomi di China terhambat oleh lockdown pada beberapa kota besar di negara tersebut serta lesunya pasar properti.

Ed Moya, Senior Market Analyst di Oanda Corp menuturkan harga minyak pada kuartal ini mengindikasikan lemahnya kondisi pasar di tengah risiko resesi global.

“Para pelaku pasar terlihat jelas mengharapkan kebijakan drastis dari OPEC+,” jelas Moya dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, OPEC+ telah memulai pembahasan untuk mengurangi pasokan minyak global pada pertemuan bulanannya pekan depan. Survei dari Bloomberg mencatat, 18 dari 19 pedagang dan analis memprediksi adanya pemangkasan produksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper