Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Ditutup Menguat, Tetapi Masih di Level Rp15.124 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah hari ini berakhir menguat di hadapan dolar AS.
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah hari ini berakhir menguat di hadapan dolar AS. Mata uang Garuda menguat bersama beberapa mata uang lain di kawasan Asia pada Selasa (27/9/2022).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,04 persen atau 5,5 poin sehingga parkir di posisi Rp15.124 per dolar AS. Indeks dolar AS pada pukul 15.10 WIB terpantau melemah 0,56 poin atau 0,49 persen ke level 113,54.

Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia terpantau serentak menguat di hadapan dolar AS. Mata uang won Korea Selatan menguat 0,61 persen, dolar Taiwan 0,42 persen, yen Jepang 0,30 persen, rupee India 0,25 persen, dolar Singapura 0,24 persen, dan baht Thailand 0,17 persen.

Kemudian mata uang kawasan Asia yang terpantau melemah adalah yuan Cina 0,28 persen, ringgit Malaysia 0,16 persen, dan peso Filipina 0,06 persen. Adapun mata uang dolar Hong Kong terpantau stagnan pada perdagangan hari ini.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan indeks dolar sedikit menurun pasca menyentuh level tertinggi selama 20 tahun terakhir pada perdagangan Senin (26/9/2022). Adapun kenaikan suku bunga juga mendorong permintaan safe haven greenback yang membantu dolar sebagai pembelian safe haven pilihan tahun ini.

Ibrahim mengatakan para pelaku pasar kini fokus pada pidato Ketua Bank Sentral AS Federal Reserve Jerome Powell yang memberi sinyal lebih lanjut terkait kebijakan moneter AS. Powell disebut memberi sinyal hawkish selama pertemuan The Fed pekan lalu.

Menurut Ibrahim perlambatan perekonomian Cina tahun ini juga berdampak pada sentimen terhadap pasar di Asia. Hal ini mengingat status Cina sebagpusat perdagangan utama di kawasan Asia.

"Tetapi pertumbuhan di negara itu dapat membaik di sisa tahun ini dengan pencabutan pembatasan COVID dan langkah-langkah stimulus baru dari pemerintah," ujar Ibrahim dalam risetnya, Selasa (27/9/2022).

Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan adanya ekspektasi akan terjadinya resesi pada tahun 2023 membuat inflasi di sejumlah negara. Hal ini memicu negara-negara maju menaikan suku bunga acuan dan memperketat likuiditas.

Adapun resesi diprediksi terjadi lantaran tingginya harga pangan dan energi di beberapa negara baik Eropa maupun AS.

"Kebijakan tersebut akan memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi dunia, sehingga negara berkembang pun akan merasakan efek dari kenaikan suku bunga itu," ujar Ibrahim.

Ibrahim menilai jika bank sentral seluruh dunia kompak menaikan suku bunga secara ekstrim, maka resesi tidak dapat terelakkan. Hal ini karena pertumbuhan negara-negara maju cukup cepat dan ekstrim sehingga memukul pertumbuhan negara berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper