Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Laku Keras, Kuota Penjualan SR017 Kembali Ditambah Jadi Rp22,5 Triliun

Pada Rabu (7/9/2022) sekitar pukul 09.00 WIB, total penjualan SR017 telah menyentuh Rp19,6 triliun.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 07 September 2022  |  09:31 WIB
Laku Keras, Kuota Penjualan SR017 Kembali Ditambah Jadi Rp22,5 Triliun
Sukuk ritel - Instagram @djpprkemenkeu
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Jumlah pemesanan sukuk ritel (SR) seri SR017 telah menembus Rp19 triliun 1 pekan sebelum masa penjualan ditutup. Kuota penjualan pun kembali ditambah seiring dengan tingginya minat investor.

Berdasarkan data yang dilansir dari salah satu mitra distribusi daring Rabu (7/9/2022) sekitar pukul 09.00 WIB, total penjualan SR017 telah menyentuh Rp19,6 triliun.

Kuota pemesanan tersisa sebanyak Rp2,89 triliun dari target Rp22,5 triliun. Kuota pemesanan tersebut telah dinaikkan dari sebelumnya sebesar Rp20 triliun.

Adapun, masa penawaran SR017 dibuka sejak 19 Agustus 2022 lalu dan akan rampung pada 14 September 2022 mendatang.

SR017 memiliki tenor 3 tahun dan akan jatuh tempo pada 10 September 2025. Instrumen ini juga dapat diperdagangkan atau tradeable setelah minimum holding period selama 3 bulan berakhir.

Terkait hal tersebut, Head of Research & Market Information Department Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie memaparkan, tingginya minat investor terhadap SR017 utamanya ditopang oleh tingkat kupon yang ditawarkan.

"Tingkat kupon yang ditawarkan pada SR017 terbilang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi ritel yang ditawarkan pada tahun ini," jelasnya saat dihubungi, Rabu (7/9/2022).

Selain itu, tingkat risiko investasi pada SR017 juga lebih rendah dibandingkan instrumen - instrumen sejenis lainnya. Hal tersebut membuat investor ritel akan mendapatkan return yang cukup optimal dengan risiko yang minim.

Ke depannya, Roby memprediksi minat investor ritel di sisa tahun 2022 akan tetap tinggi. Hal tersebut seiring dengan potensi kenaikan suku bunga di Indonesia yang sejalan dengan tren global.

"Kenaikan tingkat suku bunga juga akan mendorong yield SBN ritel, sehingga daya tarik instrumen ini akan semakin besar di mata investor," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

SR017 Obligasi Obligasi Pemerintah
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top