Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspektasi Data Inflasi AS Lemah, Dolar AS Ikut Lesu

Dolar AS masih melemah karena ekspektasi luas inflasi AS lebih lemah menjelang data inflasi utama.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 10 Agustus 2022  |  06:43 WIB
Ekspektasi Data Inflasi AS Lemah, Dolar AS Ikut Lesu
Petugas menghitung uang dolar AS di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (23/6/2022). ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Dolar AS menyusut terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (10/8/2022) pagi waktu Jakarta.

Dolar AS masih melemah karena ekspektasi luas inflasi AS lebih lemah menjelang data inflasi utama. Data ini dinanti karena dapat memberikan petunjuk tentang seberapa agresif Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada September.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,06 persen menjadi 106,3750 pada akhir perdagangan.

Dolar AS melemah pada Selasa (9/8/2022) pagi dengan keyakinan di seluruh pasar bahwa inflasi mungkin telah mencapai puncaknya.

Dolar AS telah bergerak di kisaran lebih rendah dalam perdagangan sejak awal sesi kemarin, tetapi kemudian berbalik arah karena pasar saham AS merosot karena peringatan laba, kekhawatiran inflasi global, dan data yang menunjukkan produktivitas pekerja AS turun tajam pada kuartal kedua.

"Ada banyak masalah global dan kita tidak bisa mengabaikannya dan itu memberi banyak tekanan ke bawah pada pertumbuhan global," kata Direktur Perdagangan di Monex USA Juan Perez tentang daya tarik safe haven dolar, dikutip dari Xinhua.

Fokus besar bagi para pedagang adalah pada laporan indeks harga konsumen (IHK) AS pada Rabu, yang diperkirakan menunjukkan bahwa inflasi yang tinggi selama beberapa dekade mereda pada Juli setelah kenaikan suku bunga berturut-turut 75 basis poin oleh The Fed pada Juni dan Juli.

"Kami secara konsisten mendapatkan laporan inflasi yang lebih panas dari perkiraan dan jika itu terjadi lagi, pasar tidak siap untuk itu," kata Edward Moya, Analis Pasar senior di Oanda.

"Jika itu terjadi, kami menguji keseimbangan lagi terhadap euro," katanya tentang potensi penguatan dolar yang lebih besar.

Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi US$1,0208 dari US$1,0190  pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi US$1,2070 dari US$1,2072 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi US$0,6956 dari US$0,6980.

Dolar AS dibeli 135,17 yen Jepang, lebih tinggi dari 134,86 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9540 franc Swiss dari 0,9561 franc Swiss, dan naik menjadi C$1,2891 dari C$1,2863.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as Inflasi Indeks dolar

Sumber : Antara

Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top