Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat, Manfaatkan Pelemahan Dolar AS

Rupiah hari ini ditutup menguat 23,50 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp14.852,50 per dolar AS
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 09 Agustus 2022  |  15:50 WIB
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat, Manfaatkan Pelemahan Dolar AS
Rupiah hari ini ditutup menguat 23,50 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp14.852,50 per dolar AS. Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terpantau menguat pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (9/8/2022). Penguatan juga terpantau pada beberapa mata uang lain di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup menguat 23,50 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp14.852,50 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS justru melemah 0,25200 poin atau 0,24 persen ke posisi 106,1830.

Selain rupiah, beberapa mata uang lain di kawasan Asia turut terpantau menguat pada pukul 15.15 WIB., diantaranya baht Thailand menguat 0,64 persen, won Korea Selatan naik 0,15 persen, yen Jepang naik 0,06 persen, dolar Taiwan 0,03, dan ringgit Malaysia menguat 0,03 persen persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, mata uang rupee India justru terpantau melemah 0,52 persen, peso Filipina turun 0,12 persen, dan yuan China turun 0,05 persen, terhadap dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan investor saat ini menunggu data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini, yang dapat mengambil tekanan dari Federal Reserve dan menempatkannya pada greenback jika itu menunjukkan laju kenaikan harga telah mencapai puncaknya.

Sementara itu, pasar saham AS melihat sesi yang bergejolak pada hari Senin di tengah kantong pendapatan yang beragam, yang mendorong permintaan safe haven.

“Investor juga terjebak antara pertumbuhan dan permainan nilai, menjelang data inflasi akhir pekan ini,” tulisnya dalam rilis harian, Selasa (9/8/2022).

Ibrahim mengatakan fokus saat ini ada pada data CPI AS untuk bulan Juli, yang akan dirilis pada hari Rabu. Di mana analis mengharapkan pembacaan tahun-ke-tahun sebesar 8,7 persen, turun dari 9,1 persen yang terlihat pada bulan Juni.

Di sisi lain, menurutnya penurunan inflasi yang lebih besar dari perkiraan kemungkinan akan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga yang tajam oleh Federal Reserve, dan akan positif untuk harga emas.

Sementara itu di dalam negeri, terdapat sentimen datang dari data utang Indonesia naik Rp121 triliun menjadi Rp7.123,62 triliun. Adapun, secara rasio terhadap produk domestic bruto (PDB), utang tersebut dalam batas aman, wajar, serta terkendali diiringi dengan diversifikasi portofolio yang optimal.

Ditambah lagi, jumlah utang pemerintah Indonesia merupakan paling kecil di dunia dibandingkan negara-negara lainnya yang merupakan 40 persen dari PDB. Sedangkan negara-negara maju lainnya hingga 100 persen dari PDB.

“Utang pemerintah sebesar Rp.7.123,62 triliun merupakan utang produktif . dimana utang tersebut digunakan untuk pembangunan jalan tol dan tentu utangnya akan dikembalikan kepada orang yang memberikan pinjaman,” jelasnya.

Sementara berdasarkan mata uang, utang pemerintah didominasi oleh mata uang domestik (Rupiah), yaitu 70,29 persen. Selain itu, saat ini kepemilikan oleh investor asing terus menurun sejak tahun 2019 yang mencapai 38,57 persen, hingga akhir tahun 2021 yang mencapai 19,05 persen, dan per 5 Juli 2022 mencapai 15,89 persen.

Berdasarkan sentimen di atas, Ibrahim memperkirakan perdagangan besok, Rabu (10/8/2022) ditutup menguat.

“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp14.830 - Rp14.890,” ungkap Ibrahim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah Rupiah dolar as mata uang asia
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top