Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Anjlok Nyaris 100 Poin ke Rp14.652 per Dolar AS

Bersama dengan rupiah, yuan China juga melemah 0,55 persen, dolar baht Thailand melemah 0,33 persen, dan peso Filipina melemah 0,52 persen pada awal perdagangan hari ini.
Uang dolar dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (26/4/2022) Bisnis/Himawan L Nugraha
Uang dolar dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (26/4/2022) Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah dibuka anjlok hampir 100 poin di tengah penguatan indeks dolar pada perdagangan awal pekan, Senin (13/6/2022).

Berdasarkan data Bloomberg, pada Senin (13/6/2022) pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka melemah 99,5 poin atau 0,68 persen ke Rp14.652 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 2,15 persen ke 104,51.

Bersama dengan rupiah, ada yuan China yang melemah 0,55 persen, dolar baht Thailand melemah 0,33 persen, dan peso Filipina melemah 0,52 persen.

Sebelumnya, untuk perdagangan hari ini, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.540 - Rp14.600.

Ibrahim menyebutkan dolar AS berada di level tertinggi dua minggu terhadap euro pada Jumat, menjelang data inflasi yang akan memandu jalur pengetatan kebijakan Federal Reserve, dan setelah Bank Sentral Eropa mengatakan akan memulai kampanye kenaikan suku bunga bulan depan.

"Dalam waktu dekat, pasar juga memperkirakan The Fed pekan ini akan mengumumkan kenaikan suku bunga 50 basis poin kedua dari tiga kali berturut-turut, yang telah mendorong dolar dalam beberapa bulan terakhir," kata dia dalam riset harian, dikutip Senin (13/6/2022). 

Dari sisi internal, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) menilai perekonomian Indonesia perlu tumbuh 5,7 persen per tahun agar Indonesia dapat menjadi negara maju pada 2045, sebelum 100 tahun kemerdekaan.

"Hasil exercise kami menunjukkan apabila sepanjang 2022 sampai 2045 kita bisa tumbuh berkisar 5,7 persen, kita bisa mencapai negara berpendapatan tinggi di 2043," mengutip Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti.

Untuk itu, pemerintah memandang Indonesia memerlukan proses pengembangan industri pengolahan dengan memanfaatkan inovasi dan teknologi.

Pada 2021 saja industri pengolahan yang tumbuh 3,39 persen year on year (yoy) menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi yakni mencapai 0,70 dari total pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 yang sebesar 3,69 persen.

"Diperlukan ekosistem dengan regulasi yang kondusif, kesempatan berusaha untuk terus tumbuh dan berkembang, ketersediaan sumber daya yang mencukupi, dukungan investasi dan usaha yang sehat, serta tentunya ketersediaan sumber daya manusia industri atau talent," ungkapnya.

Adapun, sebelum pandemi Covid-19, Bappenas memperkirakan Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah di 2036 dengan pertumbuhan ekonomi setidaknya 5,7 persen per tahun sejak 2015.

Hanya saja target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2036 harus tertunda karena penyebaran pandemi Covid-19 yang menyebabkan ekonomi terkontraksi pada 2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper