Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Kuartal I/2022 Turun, Saham Lonsum (LSIP) Masih Layak Koleksi?

LSIP mencatatkan laba bersih senilai Rp305 miliar pada kuartal I/2022, naik 2 persen dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal I/2021 lalu senilai Rp297 miliar.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 09 Juni 2022  |  14:20 WIB
Produksi Kuartal I/2022 Turun, Saham Lonsum (LSIP) Masih Layak Koleksi?
Saham PT PT PP London Sumatra Indonesia Tbk dinilai masih layak dicermati meski dibayangi tren penurunan produksi pada kuartal I - 2022 lalu.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Saham PT  PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) dinilai masih layak dicermati meski dibayangi tren penurunan produksi pada kuartal I/2022 lalu.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa dalam risetnya menjelaskan, penurunan penjualan LSIP berada di bawah ekspektasinya. Kenaikan rerata harga jual CPO sebesar 52,6 persen ke level Rp14.685 per kg mengimbangi penurunan produksi TBS perusahaan.

“Harga jual rata-rata yang lebih tinggi membantu perusahaan mendongkrak margin kotor dan margin operasi sebesar 57,5 persen dan 49,2 persen,” jelasnya, Rabu (9/6/2022)

Yasmin melanjutkan, produksi TBS yang menurun hingga kuartal I/2022 disebabkan cuaca yang kurang kondusif dan aktivitas penanaman kembali (replanting) yang dilakukan perusahaan. Seiring dengan turunnya inti sawit dan produksi eksternal, total CPO perusahaan pun turut menurun 39 persen yoy.

Produksi yang lamban sepanjang 3 bulan pertama tahun 2022 membuat Ciptadana Sekuritas memangkas proyeksi produksi TBS perusahaan menjadi 941.000 ton. Jumlah tersebut lebih rendah 22 persen dibandingkan realisasi produksi pada 2021.

Jumlah produksi CPO juga direvisi menurun sebesar 22 persen yoy menjadi 239.000 ton. Menurut Yasmin, replanting yang dilakukan perusahaan berimbas pada rendahnya produktivitas dalam jangka pendek.

“Tetapi, langkah ini penting dilakukan untuk menjaga pertumbuhan produksi dalam jangka panjang,” jelasnya.

Adapun, hingga akhir Maret 2022, profil usia tanaman LSIP telah mencapai 18 tahun. Sebanyak 40 persen dari total lahan tertanam sebanyak 93.094 hektare terdiri atas pohon-pohon yang telah berusia 20 tahun keatas.

Seiring dengan hal tersebut, Yasmin mengubah target harga LSIP dari Rp1.800 menjadi Rp1.810. Dengan upside sebesar 27 persen, Ciptadana Sekuritas tetap mempertahankan rating beli (buy) untuk LSIP.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, LSIP mencatatkan laba bersih senilai Rp305 miliar pada kuartal I/2022. Jumlah tersebut naik 2 persen dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal I/2021 lalu senilai Rp297 miliar.

Kenaikan laba tersebut ditopang oleh kenaikan laba kotor dan penurunan beban operasi yang sebagian diimbangi oleh kenaikan beban operasi lain.

Sementara itu, penjualan LSIP tercatat turun 36 persen yoy menjadi Rp765 miliar dari Rp1,19 triliun pada kuartal I/2021.

Sementara itu, Produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti turun 29 persen yoy menjadi 226 ribu ton terutama karena pengaruh cuaca yang tidak mendukung dan kegiatan replanting. Seiring penurunan produksi TBS inti dan eksternal, total produksi CPO turun 39 persen yoy menjadi 53 ribu ton.

Sejalan penurunan produksi, volume penjualan CPO turun 66 persen yoy menjadi 33 ribu ton sementara itu volume penjualan produk PK turun 29 persen yoy menjadi 18 ribu ton.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo lonsum london sumatra indonesia lsip
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top