Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Melemah Tipis Dipicu Lonjakan Pasokan Amerika

Menurut Departemen Energi AS, persediaan minyak mentah naik 515.000 barel pekan lalu, dan persediaan bensin naik 5,9 juta barel, meningkatkan persediaan tersebut ke level tertinggi dalam setahun.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 21 Januari 2022  |  06:52 WIB
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah sedikit lebih rendah pada akhir perdagangan Kamis (20/1/2022) waktu Amerika Serikat, karena aksi ambil untung setelah beberapa hari menguat yang mendorong kontrak acuan ke level tertinggi tujuh tahun.

Mengutip Antara, Jumat (21/1/2022), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret tergerus 6 sen menjadi menetap di US$88,38 per barel. Patokan global Brent melonjak menjadi US$89,17 per barel sehari sebelumnya, level tertinggi sejak Oktober 2014 dan telah menguat 13 persen sejauh tahun ini.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Februari juga turun 6 sen menjadi ditutup di US$86,90 per barel pada hari terakhir masa berlaku kontrak. Kontrak WTI Maret yang lebih aktif menetap di US$85,55 per barel atau turun 25 sen. WTI telah terangkat 15 persen sepanjang tahun ini.

Menurut Departemen Energi AS, persediaan minyak mentah naik 515.000 barel pekan lalu, dan persediaan bensin naik 5,9 juta barel, meningkatkan persediaan tersebut ke level tertinggi dalam setahun.

"Saya tidak berpikir peningkatan pasokan bensin adalah pembunuh bullish. Kami akan membutuhkan penyulingan untuk terus menyuling buat memenuhi permintaan bensin di musim mengemudi musim panas - itulah salah satu alasan pasar masih didukung meskipun pasokan bensin meningkat," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

Perdagangan telah didominasi oleh kekhawatiran pasokan, dari masalah jangka pendek seperti penghentian sementara aliran pipa Irak-ke-Turki hingga kekurangan yang konsisten dari anggota OPEC+ dalam mencapai peningkatan pasokan yang ditargetkan.

Sementara itu, permintaan tetap stabil, dengan pasokan produk AS, proksi untuk permintaan konsumen terbesar dunia, mencapai 21,2 juta barel per hari selama empat minggu terakhir, di depan kecepatan prapandemi.

Kekhawatiran pasokan telah meningkat minggu ini setelah kebakaran untuk sementara menghentikan aliran melalui pipa minyak yang mengalir dari Kirkuk Irak ke pelabuhan Ceyhan di Turki pada Selasa (18/1).

Kelompok produsen OPEC+ yang terdiri dari OPEC dan sekutu yang dipimpin oleh Rusia telah memproduksi kurang dari targetnya, dengan Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu (19/1) memperkirakan bahwa kelompok tersebut memproduksi sekitar 800.000 barel per hari (bph) di bawah target Desember.

IEA mengatakan bahwa sementara pasar minyak bisa mengalami surplus yang signifikan pada kuartal pertama tahun ini, persediaan kemungkinan akan jauh di bawah tingkat prapandemi. Badan tersebut juga meningkatkan perkiraan permintaan 2022.

Serangan oleh Houthi Yaman di Uni Emirat Arab, produsen terbesar ketiga di Organisasi Negara Negara Pengekspor Minyak (OPEC), meningkatkan risiko di antara pemasok besar.

Indeks kekuatan relatif (RSI) untuk WTI, ukuran momentum, berada pada level yang terakhir terlihat pada Oktober, menunjukkan reli berisiko menjadi berlebihan dan layak bagi penjual untuk masuk ke pasar.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logam mulia harga minyak brent harga minyak mentah wti
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top