Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Calon Emiten Grup Triputra DRMA Incar Pertumbuhan Laba 20 Persen

PT Dharma Polimetal Tbk. menargetkan laba bersih dan pendapatan pada 2022 dapat tumbuh lebih baik dari 2021 dengan kenaikan berkisar 20 persen.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 22 November 2021  |  21:00 WIB
Suasana pabrik calon emiten komponen otomotif, PT Dharma Polimetal Tbk. Entitas Grup Triputra ini melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham pada akhir 2021.
Suasana pabrik calon emiten komponen otomotif, PT Dharma Polimetal Tbk. Entitas Grup Triputra ini melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham pada akhir 2021.

Bisnis.com, JAKARTA - Entitas Grup Triputra sekaligus calon emiten komponen otomotif, PT Dharma Polimetal Tbk. menargetkan pendapatan dan laba bersih tumbuh 20 persen pada 2022.

Emiten yang akan mendapatkan kode ticker DRMA ini menargetkan laba bersih dan pendapatan pada 2022 dapat tumbuh lebih baik dari 2021 dengan kenaikan berkisar 20 persen.

Dharma Polimetal melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham akhir tahun ini guna membiaya ekspansi di lini bisnis komponen kendaraan listrik tahun depan.

Presiden Direktur Dharma Polimetal Irianto Santoso menjelaskan belanja modal 2022 akan berasal dari dana hasil IPO serta laba bersih yang dihasilkan dari aktivitas bisnis 2021.

"Itu sebagian akan dibiayai dari hasil IPO sebanyak 70 persen kira-kira belanja modal Dharma Polimetal. Kami juga tahun ini akan profit, sebagian dari profit untuk belanja modal. Ini untuk menopang target profit bertambah mendukung kinerja perusahaan," jelasnya dalam paparan publik, Senin (22/11/2021).

Saham yang akan dilepas ke publik sebanyak- banyaknya 705.882.300 atau 705,88 juta lembar saham dengan rentang harga penawaran antara Rp500 hingga Rp620 per lembarnya.

"Semua komponen saat ini dibuat sangat dibutuhkan kalau industri otomotif bertransformasi dari ICE [internal combustion engine] ke kendaraan listrik [electric vehicle]," paparnya.

Ketika kendaraan bertransformasi menjadi kendaraan listrik jelasnya, berat baterai itu 30 persen berat kendaraan, sehingga berat kendaraan harus dibuat lebih ringan. Salah satu upayanya menggunakan material high tensile steel, yang membutuhkan kompetensi, mesin, insinyur, hingga mendesain alat barunya.

Hal ini yang tengah ini disiapkan dan sudah mulai dilaksanakan oleh DRMA. Pergeseran ICE ke EV ini akan membutuhkan perkabelan listrik yang lebih kompleks, hal ini yang tengah dikerjakan DRMA melalui anak usahanya, Dharma Electrindo Manufacturing.

Melalui aksi penawaran umum perdana saham tersebut calon emiten yang sudah mendapatkan kode ticker DRMA akan menghasilkan dana sekitar Rp352,9 miliar hingga Rp437,6 miliar.

Irianto melanjutkan dana hasil IPO tersebut antara Rp247,03 miliar-Rp306,32 miliar untuk membeli mesin-mesin baru dengan tonase yang tinggi hingga 1.000 ton dan 500 ton.

"Ekspansi ini karena dapat kepercayaan pelanggan membuat komponen yang selama ini pelanggan membuatnya dari suplier Jepang, kami menjadi perusahaan lokal pertama membangun komponen tersebut, butuh mesin-mesin komponen tersebut," urainya.

Selain pembelian mesin tersebut, dana berkisar 70 persen dari hasil IPO DRMA ini akan digunakan untuk otomasi dan mendukung pengembangan industri 4.0 di pabrik baru dari awal hingga akhir proses manufaktur.

"Kami yakin industri EV boleh dibilang masih lama, tapi tahu-tahu 2 sampai 3 tahun lagi di depan kita mulai terjadi, banyak berita kolaborasi perusahaan membuat sepeda motor listrik, kami membuat komponen semua merk sehingga punya kebebasan untuk masuk ke semuanya," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

otomotif ipo triputra Dharma Polimetal
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top