Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sampoerna Agro (SGRO) Masuk Ke Bisnis Hilirisasi Sawit

SGRO mengkaji kemungkinan untuk masuk ke sektor hilir bisnis sawit seperti bahan bakar biodiesel dan bahan bakar nabati atau FAME (Fatty Acid Methyl Ester).
Salah satu perkebunan sawit yang dikeloal PT Sampoerna Agro Tbk./Sampoernaagro.com
Salah satu perkebunan sawit yang dikeloal PT Sampoerna Agro Tbk./Sampoernaagro.com

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten perkebunan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) melirik ekspansi ke sektor hilir sawit dalam jangka panjang. Manajemen juga optimistis kinerja perusahaan dapat terus tumbuh hingga akhir tahun ini.

Direktur Sampoerna Agro Heri Harjanto mengatakan pihaknya terus mengkaji kemungkinan untuk masuk ke sektor hilir bisnis sawit seperti bahan bakar biodiesel dan bahan bakar nabati atau FAME (Fatty Acid Methyl Ester).

Heri memaparkan, dalam mengkaji rencana ini, perusahaan memperhatikan skala ekonomi dari kapasitas produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Menurutnya, potensi bisnis dari hilirisasi sawit memang cukup menjanjikan.

Kendati demikian, menurutnya perusahaan belum memiliki kapasitas produksi yang memadai untuk terjun ke sektor ini. Sejauh ini, SGRO dapat memproduksi CPO sebesar 400.000 hingga 500.000 ton.

“Dari skala ekonomi kami menilai belum perlu untuk segera turun ke bisnis hilir. Tetapi, peluang-peluang yang ada akan terus dikaji,” jelasnya dalam paparan publik perusahaan, Jumat (10/9/2021).

Heri melanjutkan, pihaknya optimistis dapat melanjutkan kinerja positif hingga akhir tahun 2021. Salah satu katalis positif yang menopang kinerja perusahaan adalah prospek harga CPO yang masih akan menguat sampai akhir tahun.

Kemudian, pertumbuhan volume produksi yang telah diantisipasi di tahun 2021 akan terus menunjang kinerja, selaras dengan pemulihan produksi seiring cuaca yang bersahabat dalam beberapa kurun waktu ini. Heri mengatakan, produksi tandan buah segar (TBS) SGRO hingga akhir tahun dapat tumbuh sekitar 16 persen – 19 persen.

Selain itu, produsen sawit Indonesia kini juga lebih kompetitif sejak adanya penurunan tarif pungutan ekspor terhadap produk sawit oleh pemerintah Indonesia pada akhir Juni.

“Harga perdagangan minyak sawit di pasar domestik telah menguat lebih dari 30 persen dalam enam minggu terakhir,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper