Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Dibuka Bervariasi Menyusul Penguatan Data Tenaga Kerja AS

Perhatian investor tertuju pada laporan pekerjaan untuk Juli 2021 oleh Departemen Tenaga Kerja AS, yang menunjukkan 943.000 pekerjaan telah kembali pada bulan lalu.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 06 Agustus 2021  |  21:20 WIB
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021). - Bloomberg
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks utama bursa saham New York, Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan dengan bervariasi setelah data gaji tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (6/8/2021), indeks Dow Jones Industrial Average dibuka menguat 0,43 persen menjadi di posisi 35.215,70, sementara S&P 500 naik 0,19 persen menjadi di level 4.437,70, sedangkan Nasdaq turun 0,16 persen ke 14.871,06.

Pertumbuhan tenaga kerja AS meningkat paling cepat pada Juli dalam hampir satu tahun dan tingkat pengangguran menurun. Ini menggambarkan momentum tambahan untuk pasar tenaga kerja yang masih bergulat dengan tantangan perekrutan. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun terpantau naik di atas 1,28 persen.

Perhatian investor tentunya tertuju pada laporan pekerjaan untuk Juli 2021 oleh Departemen Tenaga Kerja AS, yang menunjukkan 943.000 pekerjaan telah kembali pada bulan lalu karena tingkat pengangguran turun ke level terendah sejak Maret 2020. Laporan tersebut juga menunjukkan revisi ke atas untuk kenaikan gaji dua bulan terakhir.

Namun demikian, Covid-19 varian delta yang merajalela di seluruh AS dan kendala lain pada pasar tenaga kerja masih berperan. Sejumlah pakar menilai arah ekonomi AS belum sepenuhnya jelas. Pada awal pekan ini, Automatic Data Processing Inc (ADP) merilis laporan ketenagakerjaan dengan hanya 330.000 pekerjaan telah kembali versus hampir 700.000 yang diharapkan.

Adapun, laporan versi ADP secara historis tidak dilacak dengan sempurna seperti laporan pekerjaan bulanan resmi Departemen Tenaga Kerja AS, yang cenderung menjadi indikator arah dari tren di pasar tenaga kerja.

Bagi investor saham, beberapa moderasi dalam kecepatan pemulihan dapat dianggap sebagai hasil yang lebih diinginkan.

"Pasar sebenarnya menginginkan laporan pekerjaan yang buruk, sesat kedengarannya. Kita ingin jumlah pekerjaan menurun sehingga bank sentral The Fed memiliki alasan untuk melanjutkan kebijakan moneternya,” kata CEO Opimas Octavio Marenzi kepada Yahoo Finance.

Awal pekan ini, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan bahwa dia akan mendukung pengumuman pengurangan pembelian obligasi era krisis bank sentral pada September jika laporan ketenagakerjaan berikutnya datang dengan kuat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street nasdaq indeks dow jones industrial average

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top