Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Prospek Reksa Dana Pendapatan Tetap Menurut Pinnacle Investama

Belum pulihnya reksa dana pendapatan tetap berkaitan erat dengan volatilitas imbal hasil (yield) pada pasar obligasi secara keseluruhan
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 06 Juni 2021  |  13:31 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Pinnacle Persada Investama menilai prospek reksa dana pendapatan tetap pada tahun ini masih positif kendati potensi penguatannya terbatas.

Direktur Utama PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra meyakini, potensi reksa dana pendapatan tetap masih sangat baik, walaupun pada tahun ini pihaknya lebih bullish pada aset-aset saham.

“Prospeknya masih cukup menjanjikan pada tahun ini, tetapi mungkin dari sisi potential upside lebih terbatas,” jelasnya saat dihubungi pada Minggu (6/6/2021).

Ia memaparkan, belum pulihnya reksa dana pendapatan tetap berkaitan erat dengan volatilitas imbal hasil (yield) pada pasar obligasi secara keseluruhan. Guntur mencontohkan yield SUN 10 tahun Indonesia yang banyak digunakan sebagai acuan (benchmark) untuk underlying produk reksa dana pendapatan tetap berbasis SBN sempat mendekati 7 persen di akhir Maret 2021.

“Cukup tinggi volatilitasnya bila dibandingkan di awal tahun masih di level 6 persen, walaupun sekarang sudah ada perbaikan ke level 6,4 persen 6,5 persen. Selain itu, harga obligasi berbanding terbalik dengan pergerakan yield di market,” jelasnya.

Menurut Guntur, volatilitas yield obligasi disebabkan oleh faktor global dan domestik. Dari luar negeri, kekhawatiran para investor terhadap potensi kenaikan inflasi menjadi salah satu sentimen negatif.

Investor mengkhawatirkan kenaikan inflasi dapat menyebabkan berakhirnya quantitative easing (QE) yang dilakukan oleh bank sentral. Hal ini pun berimbas pada kenaikan imbal hasil obligasi AS (US Treasury).

“Akibatnya, di dalam negeri harga obligasi Indonesia terdampak secara negatif. Hal ini juga berimbas pada tertekannya kinerja reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi negara,” ujarnya.

Guna mengatasi volatilitas, Guntur mengatakan pihak Pinnacle menerapkan strategi active duration untuk produknya yang berbasis obligasi pemerintah.

Ia menuturkan, di tengah volatilitas dan tren kenaikan yield saat ini, durasi secara keseluruhan pada produk reksa dana Pinnacle cenderung lebih pendek dibandingkan dengan acuan.

Berdasarkan data Infovesta Utama, reksa dana pendapatan tetap mencatatkan kinerja positif sepanjang 21 Mei - 28 Mei, yakni 0,09 persen. hal ini terjadi menyusul kenaikan terbatas pada obligasi pemerintah sebesar 0.28 persen dan obligasi korporasi sebesar 0.11 persen.

Meski demikian, reksa dana pendapatan tetap masih menunjukkan performa negatif sepanjang tahun 2021. Secara year to date (ytd) reksa dana pendapatan tetap membukukan kinerja -0,53 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana investasi reksa dana
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top