Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemilik Hypermart (MLPL) Bahas Pentingnya Platform Digital bagi Ritel Modern, Sinyal Melebur dengan Go Mart?

Direktur Utama Multipolar Agus Arismunandar menilai prospek industri ritel modern di Indonesia terutama yang dibarengi platform digital masih sangat prospektif seiring penetrasi ritel modern di Tanah Air yang dinilainya masih sangat rendah.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 25 Mei 2021  |  17:18 WIB
Petugas Hypermat tengah memindahkan barang belanjaan konsumen. Layanan park and pick up menjadi salah satu layanan baru PT Matahari Putra Prima Tbk. sejak penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). - hypermart.co.id
Petugas Hypermat tengah memindahkan barang belanjaan konsumen. Layanan park and pick up menjadi salah satu layanan baru PT Matahari Putra Prima Tbk. sejak penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). - hypermart.co.id

Bisnis.com, JAKARTA — Pemilik saham pengendali PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA), PT Multipolar Tbk. (MLPL) buka suara mengenai rencana bisnis Hypermart di masa mendatang setelah Gojek membeli sebagian saham anak usaha perseroan tersebut.

Chief Business Development and Investor Relations Multipolar Agus Arismunandar menilai prospek industri ritel modern di Indonesia terutama yang dibarengi platform digital masih sangat prospektif seiring penetrasi ritel modern di Tanah Air yang dinilainya masih sangat rendah.

Dia menyebut penetrasi ritel di Indonesia baru ada di kisaran 19 persen, jauh lebih kecil dari penetrasi ritel modern di negara tetangga seperti Filipina yang ada di sekitar 39 persen, Malaysia dan Thailand 40 persen, serta Singapura yang lebih dari 75 persen.

“Jadi bisnis ritel masih menjanjikan, masih berprospek sangat cerah,” katanya dalam sesi paparan publik Multipolar, Selasa (25/5/2021)

Dia meyakini, kombinasi antara tingkat penetrasi yang rendah dan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar membuat bisnis ritel modern masih prospektif di masa mendatang, terutama yang disertai dan didukung platform digital online.

Sebab, tambah Agus, mayoritas penduduk di Indonesia kini berusia muda, yang identik dengan perilaku konsumsi yang berbeda dengan generasi sebelumnya, yang mana kaum muda sangat akrab dengan kanal belanja digital. Kondisi ini juga didorong oleh pandemi yang mengubah aktifitas masyarakat.

“Pandemi sekarang juga ikut mengubah delivery service, produk, dan lainnya. Ini akan lanjut tidak cuma pas pandemi selesai. Makanya ritel modern yang disertai dan didukung platform digital online akan sangat berprospek baik ke depan,” tambah dia.

Ketika disinggung mengenai kemungkinan entitas ritel modern yang dioperasikan MPPA akan melebur dengan unit usaha ritel milik Gojek sebagai investor baru MPPA, yaitu Go Mart, Agus mengaku belum dapat memberikan informasi secara detail.

“Untuk saat ini belum ada sebuah rencana konkret yang sudah diputuskan, jadi semua masih dalam tahap perencanaan. Nanti pada saatnya kalo sudah ada kerja sama yang konkret kita akan informasikan kembali ke pasar,” pungkasnya.

Seperti diketahui, belum lama ini Gojek atau PT Aplikasi Karya Anak Bangsa melalui entitas anaknya, PT Pradipa Darpa Bangsa, telah membeli 4,76 persen atau setara dengan 358.530.900 saham MPPA yang dilepas oleh MLPL. 

Per akhir April 2021, MLPL menguasai 38 persen saham MPPA. Adapun, MPPA sendiri merupakan perusahaan yang menaungi jaringan ritel modern Hypermart.

MLPL juga memegang 19,42 persen saham PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF), yang mengoperasikan gerai Matahari.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lippo group multipolar matahari putra prima Gojek
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top