Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

​Neraca Dagang Surplus, Rupiah Moncer di Akhir Pekan

Pada perdagangan Jumat (15/1/2021), nilai tukar rupiah ditutup menguat 39 poin atau 0,28 persen menuju Rp14.020 per dolar AS.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 15 Januari 2021  |  17:48 WIB
Tumpukan uang dolar dan rupiah di Kantor Cabang Bank Mandiri di Jakarta, Kamis (14/1/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha
Tumpukan uang dolar dan rupiah di Kantor Cabang Bank Mandiri di Jakarta, Kamis (14/1/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada pekan kedua bulan Januari 2021. Kinerja neraca perdagangan menjadi salah satu faktor pendukung penguatan rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (15/1/2021), nilai tukar rupiah ditutup menguat 39 poin atau 0,28 persen menuju Rp14.020 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS naik 0,12 persen ke level 90,35. 

Terkait hal tersebut, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menuturkan, pergerakan nilai tukar dari dalam negeri dipengaruhi dari sentimen data neraca dagang Desember dan juga data penutup tahun 2020. Menurut Yusuf, surplus neraca dagang yang dicatatkan Indonesia memberi tenaga rupiah untuk melanjutkan penguatan. 

Sementara itu, dari luar negeri, stimulus yang akan dikeluarkan oleh Presiden Terpilih AS, Joe Biden menjadi faktor pendukung rupiah. Gelontoran stimulus tersebut diyakini menopang ekspektasi pemulihan ekonomi.

Sementara itu, untuk minggu depan, sentimen kelanjutan dari proses pengadaan vaksin masih akan menjadi sentimen positif pergerakan rupiah.

Hal tersebut, lanjutnya, juga ditambah dengan rencana penerbitan surat utang pemerintah yang akan menambah masuknya capital inflow ke Indonesia. 

"Pekan depan, rupiah diproyeksikan menguat dan akan bergerak di kisaran Rp13.900 - Rp14.000," katanya saat dihubungi pada Jumat (15/1/2021).

Sementara itu, analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan, tren penguatan nilai rupiah ditopang oleh rencana penggelontoran stimulus jumbo oleh Joe Biden. 

Ia menjelaskan, paket stimulus tersebut menimbulkan kekhawatiran dari pelaku pasar karena akan menaikkan inflasi. Hal tersebut membuat, pelemahan nilai dolar AS sedikit tertahan pada pekan ini dan berimbas pada kembalinya nilai tukar rupiah ke kisaran Rp14.000.

"Pasar juga mulai mengantisipasi terjadinya rebound seiring dengan kemunculan stimulus ini. Tetapi, sentimen ini belum terealisasi," katanya. 

Wahyu memperkirakan, nilai tukar rupiah akan berkutat di posisi Rp13.800 hingga Rp14.200 pada pekan depan.  Ia melanjutkan, apabila sentimen kekhawatiran pasar terhadap inflasi hanya sementara, maka koreksi yang terjadi pada nilai dolar AS hanya akan berlangsung dalam jangka pendek. 

Hal tersebut membuka peluang nilai rupiah untuk menyentuh level Rp13.000 pada semester I/2021. "Peluang menembus Rp12.000 juga terbuka pada tahun ini," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah Neraca Perdagangan dolar as
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top