Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Tak Muluk Pasang Target Penjualan Sukuk Tabungan ST007, Kenapa Ya?

ST007 juga merupakan instrumen surat utang ritel terakhir yang terbit tahun ini sehingga pemerintah tidak muluk memasang target besar dar penerbitan instrumen ini. Di akhir tahun, biasanya masyarakat memiliki kebutuhan dana berlebih sehingga porsi untuk investasi lebih sedikit.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 17 November 2020  |  17:31 WIB
 Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat
Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah tidak memasang target yang  tinggi untuk penjualan instrumen surat utang ritel Sukuk Tabungan seri ST007.

Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan seri ST007 merupakan instrumen yang tak dapat diperdagangkan atau non tradable sehingga minat investor tak sebesar pada seri lainnya.

Di sisi lain, ST007 juga merupakan instrumen surat utang ritel terakhir yang terbit tahun ini sehingga pemerintah tidak muluk memasang target besar dar penerbitan instrumen ini.

Nggak besar karena sudah dipenuhi di sukuk ritel di awal dan ORI di awal, kita tahu pula di akhir tahun banyak yang sudah siap-siap cash-nya buat tahun baru dan sebagainya sehingga target kita tidak bisa besar,” jelas Dwi dalam paparan via daring, Senin (16/11/2020)

Sebelum ST007, sepanjang tahun ini pemerintah telah menerbitkan 5 surat negara berharga ritel yakni SBR009, SR012, ORI017, SR013, ORI018, dengan total pemesanan mencapai sekitar Rp137,69 triliun.

Dari total 6 instrumen ritel yang dirilis pemerintah, empat di antaranya yakni adalah seri yang dapat diperdagangkan (tradable), sedangkan dua lainnya yakni SBR009 serta ST007 merupakan seri yang tak dapat diperdagangkan.

Lebih lanjut, Dwi mengatakan pandemi yang terjadi tahun ini membuat DJPPR memilih strategi yang berbeda dibandingkan tahun lalu, yang mana pada 2019 pemerintah menerbitkan 10 instrumen ritel dengan mayoritas instrumen bersifat non tradable.

Dwi menuturkan, pandemi Covid-19 menyebabkan banyak orang menunda rencana pengeluara, baik untuk melakukan perjalanan, belanja, hingga menghelat acara keluarga seperti pernikahan, sehingga banyak dana siaga.

“Di sisi lain pandemi belum pasti nih selesainya kapan. Waktu awal pasti sempat berpikir mungkin Juli beres, mungkin juga akhir tahun, tidak ada yang tau saat itu. Karena belum ada kepastian, kita ubah strateginya bukan ST yang kita terbitkan tapi SR yang tradeable,” jelasnya.

Menurutnya, dengan holding periode yang relatif singkat yakni dua bulan sejak tanggal setelmen, masyarakat yang menaruh dananya di instrumen ritel akan mudah menjual kembali instrumennya ketika akan melanjutkan rencana yang tertunda akibat pandemi.

“Ternyata strategi ini cukup valid, terbukti sekarang aktivitas mulai jalan lagi, umroh juga mulai berangkat lagi. Jadi kita terbitkan ini bukan hanya untuk pemenuhan target kita tapi benar-benar menyediakan instrumen investasi yang pas tapi aman buat masyarakat,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sukuk sukuk tabungan
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top