Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Efek Vaksin Pfizer, Saham Emiten Farmasi Mayoritas Menghijau

Dari 12 emiten farmasi yang terdaftar di BEI, 8 diantaranya mengalami penguatan seiring dengan progres vaksin Covid-19.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 10 November 2020  |  10:12 WIB
Pabrik Pyridam Farma di Cianjur. - pyridam.com
Pabrik Pyridam Farma di Cianjur. - pyridam.com

Bisnis.com, JAKARTA – Saham emiten farmasi yang terdapat dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mayoritas menghijau pada awal perdagangan Selasa (10/11/2020) seiring dengan progres vaksin Covid-19..

Dari 12 emiten farmasi yang terdaftar dalam indeks acuan, 8 diantaranya mengalami penguatan, 3 lainnya berada di level stagnan, dan 1 emiten tidak diperdagangkan karena sedang dalam masa suspensi oleh bursa.

PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA) menjadi emiten dengan penguatan harga saham paling tinggi kenaikannya dari semua emiten sektor farmasi. Hingga pukul 09.41 WIB, Selasa (10/11/2020), saham PYFA sudah naik 8 persen atau 70 poin ke level Rp945.

Selain PYFA, saham emiten BUMN yakni PT Phapros Tbk. (PEHA) juga menguat 7,57 persen ke level Rp1.635.

Di sisi lain, berdasarkan besaran transaksinya saham farmasi yang paling aktif diperjualbelikan adalah PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) yang juga mengalami penguatan sebesar 5,64 persen ke level Rp3.370 pada pembukaan perdagangan hari ini.

Total transaksi saham KAEF diketahui mencapai Rp122,59 miliar dengan mayoritas aksi jual beli dilakukan oleh pelaku pasar dalam negeri. Namun, asing juga terpantau memborong saham KAEF dengan nilai bersih Rp265,77 juta.

Broker Mirae Asset Sekuritas diketahui paling banyak melakukan jual beli saham KAEF pada awal perdagangan hari ini.

Di sisi lain, harga saham PT Soho Global Health Tbk. (SOHO), PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SDPC) dan PT Darya-varia Laboratoria Tbk. (DVLA) berada posisi stagnan atau tak bergerak dari posisi perdagangan sebelumnya.

Sementara, PT Merck Sharp Dohme Pharma Tbk. (SCPI) adalah satu-satunya emiten sektor farmasi yang tidak diperdagangkan di bursa karena sedang dalam masa suspensi dan terancam delisting.

Adapun, sentimen positif untuk emiten farmasi berasal dari pasar global yakni vaksin yang dikembangkan Pfizer Inc. dan BioNTech SE dinilai mampu menahan penyebaran Covid-19.

Berdasarkan kajian perusahaan tersebut, vaksin yang tengah dikembangkan mampu menahan 90 persen infeksi virus terhadap ribuan sukarelawan.

Penemuan itu mengejutkan ilmuwan mengenai efektivitas vaksin dan memicu spekulasi di antara para investor bahwa bakal ada jalan keluar dari pandemi ini.

“Ini jelas sekali menjadi hari yang penting bagi dunia. Vaksin memiliki kekuatan yang akan mendorong aset berisiko naik lebih tinggi, spread kredit menguat, pasar saham naik, dan mata uang negara berkembang terapresiasi,” kata Head of Global Macro Strategy Matthew Hornbach, seperti dikutip Bloomberg pada Senin (9/11/2020).

Adapun, perkembangan vaksin Covid-19 beriringan dengan hasil Pemilu Presiden AS pekan lalu yang dimenangkan oleh Joe Biden.

Pelaku pasar tampaknya menyambut baik kemenangan Biden sambil berspekulasi bahwa akan terjadi gridlock di Kongres AS yang membuat kebijakan Negeri Paman Sam tidak akan jauh berubah.

Beberapa waktu lalu, analis Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami Nasr mengatakan bahwa prospek saham emiten farmasi memang sangat bergantung pada pemberitaan mengenai vaksin.

“Pergerakan saham emiten farmasi masih akan volatile dan tergantung pada berita-berita tentang seputar obat vaksin baik positif juga negatif,” ungkapnya kepada Bisnis.

Begitupun, pergerakan saham emiten farmasi yang cukup riskan membuatnya tidak menyarankan investor untuk menahan saham-saham tersebut untuk jangka waktu panjang dan menengah.

“Lebih disarankan untuk trading jangka pendek saja,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG emiten farmasi Vaksin
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top