Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Omnibus Law Bakal Tarik Lagi Modal Asing ke Pasar Modal Tahun Depan

Modal asing dinilai bakal kembali mampir ke pasar modal dalam negeri jika Joe Biden berhasil memenangkan pemilu di Amerika Serikat. Pelaksanaan omnibus law juga menjadi faktor penting dalam menarik aliran modal asing ke dalam negeri.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  05:00 WIB
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Arus modal asing (capital inflow) diyakini akan kembali masuk ke pasar modal Indonesia pada tahun depan, berbalik dari tahun ini yang cukup deras keluar akibat pandemi Covid-19. Omnibus law dan hasil pemilihan presiden Amerika Serikat disebut menjadi faktor pendukung.

Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan bahwa ada beberapa faktor utama yang membuka peluang arus dana asing kembali masuk ke Indonesia, yaitu proyeksi kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden AS 2020 dan disahkannya Undang-undang Cipta Kerja.

Dia menjelaskan bahwa kemenangan Joe Biden dalam kontestasi itu akan membuat dolar AS dalam tren negatif seiring dengan penggelontoran stimulus yang diyakini lebih besar daripada ekspektasi.

“Selain itu, Joe Biden yang cenderung pro pajak tinggi akan membuat valuasi saham AS akan lebih mahal sehingga pasar modal diproyeksi terkoreksi karena dana asing akan lari ke emerging market, salah satunya ke Indonesia,” papar Hans Kwee dalam sesi webinar Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2020, Kamis (22/10/2020).

Tidak hanya itu, aliran masuk dana asing juga akan didukung oleh perbedaan imbal hasil yang semakin jauh antara negara-negara Asia Tenggara yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan negara Eropa dan AS yang lebih rendah.

Belum lagi, Undang-Undang Cipta Kerja yang dinilai ramah investor telah disahkan dan akan menjadi pendorong baik masuknya aliran dana asing kembali ke Indonesia.

Untuk diketahui, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor asing mencetak net sell atau jual bersih Rp262,45 miliar pada Kamis (22/10/2020). 

Sementara itu, sepanjang periode berjalan 2020, investor asing  membukukan jual bersih Rp47,489 triliun. Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam periode tahun berjalan masih terkoreksi 19,17 persen.

Derasnya arus keluar itu seiring dengan pandemi Covid-19 yang meningkatkan ketidakpastian pasar sehingga investor cenderung berpihak terhadap aset investasi yang lebih aman, seperti dolar AS.

Hal itu pun sejalan dengan transaksi di Asia tenggara. Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, investor asing telah membawa dana US$17 miliar keluar dari pasar modal Asia Tenggara tahun ini. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar dalam satu dekade terakhir.

Senada, Direktur CSA Institute Aria Santoso  mengatakan bahwa dana asing akan kembali ke emerging market mulai tahun depan seiring dengan mulai membaiknya pasar secara global.

Jika dilihat dari tren produk domestik bruto (PDB) beberapa negara  di dunia dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kecenderungan penurunan PDB di negara Eropa dan AS.

Sementara itu, di Asia terus mencatatkan kenaikan bahkan menjadi  kontributor terbesar dalam komposisi global.

“Makanya kalau ada investor asing keluar jangan langsung panik,  karena mereka tampak akan bertahan dalam jangka panjang di Indonesia karena negara ini cukup terkendali dan investasi di Indonesia masih menjanjikan dibandingkan dengan peersnya,” papar Aria.

Dia pun merekomendasikan para investor pasar modal untuk tetap memilih perusahaan dengan pendapatan yang positif kendati dihadang pandemi Covid-19 dan berbagai siklus industri lainnya.

Menurut dia, emiten yang berhasil tetap membukukan kinerja positif mencerminkan manajemen yang baik karena bisa menghasilkan berbagai strategi jitu melawan krisis.

“Selain itu, tetap perhatikan timing pembelian dan jangan lupa  bagi risiko jumlah emiten, jangan berfokus terhadap satu portofolio saja,” papar Aria.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI Omnibus Law
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top