Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Demo Omnibus Law Terus Berlangsung, Ini Proyeksi Rupiah Terhadap Dolar

Omnibus Law UU Cipta Kerja akan menjadi sentimen internal utama yang memengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS pekan depan.
M. Nurhadi Pratomo & Hafiyyan
M. Nurhadi Pratomo & Hafiyyan - Bisnis.com 18 Oktober 2020  |  07:04 WIB
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Meskipun demo penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja terus berlangsung, mata uang rupiah terhadap dolar AS masih berpotensi menguat pada pekan depan.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2020), rupiah ditutup di level Rp14.698 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi itu melemah 8 poin atau 0,05 persen dari sesi sebelumnya. Kurs Jisdor melemah 6 poin dibandingkan dengan posisi Kamis (15/10/2020) di level Rp14.760.

Adapun, indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama harus terkoreksi 0,19 persen ke level 93,682.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan dari sisi eksternal, pergerakan dolar AS yang memengaruhi rupiah, dipicu oleh langkah Presiden AS  Donald Trump yang pada hari Kamis menawarkan untuk menaikkan nilai paket stimulus menjadi US$1,8 triliun.

Namun, tawaran Trump ditolak oleh Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell, yang khawatir Partai Republik tidak akan menyetujui kenaikan harga.

Menteri Keuangan Steven Mnuchin juga memberi tahu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Nancy Pelosi pada hari yang sama bahwa Trump secara pribadi akan melobi untuk meminta Senat Republik yang enggan berada di balik kesepakatan apa pun yang dicapai. 

"Namun, investor terus meragukan kesepakatan yang terwujud sebelum pemilihan presiden 3 November," papar Ibrahim, Jumat (16/10/2020).

Sementara itu, hingga Jumat para mahasiswa, melakukan demonstrasi di Istana Merdeka. Tujuan dari demo tersebut ikut bersama-sama aktivis buruh dan masyarakat menyuarakan tentang penolakan terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja yang minggu sebelumnya disahkan oleh DPR.

Pemerintah harus terus melakukan sosialisasi tetang  pentingnya Omnibus Law Cipta Kerja karena, Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya. Dengan demikian, diperlukan sebuah regulasi yang tidak tumpang tindih guna mendatangkan investor dari luar.

"Maka diperlukan ketentuan yang memudahkan investasi dan kepastian berusaha," imbuhnya.

Bahkan sangat disayangkan kalau UU Ciptaker baru lahir di era sekarang. Seharusnya, UU sapu jagat ini sudah mulai diterbitkan di era Presiden Soeharto, karena sistem perundang-undangan yang diakui bersifat sektoral akan tetapi masalah nasional yang dihadapi multi aspek, multi dimensi dan multi disiplin keilmuan.

Secara bersamaan Bank Dunia ikut mengomentari Omnibus Law Cipta Kerja. Lembaga keuangan internasional itu menilai beleid sapu jagad tersebut merupakan upaya reformasi besar-besaran untuk menjadikan Indonesia lebih berdaya saing dan mendukung aspirasi jangka panjang bangsa untuk menjadi masyarakat yang sejahtera.

Penghapusan pembatasan yang berat pada investasi menandakan bahwa Indonesia terbuka untuk bisnis. Dengan demikian, beleid tersebut dinilai dapat membantu menarik investor, menciptakan lapangan kerja dan membantu Indonesia memerangi kemiskinan.

Dalam perdagangan akhir pekan ini, mata uang rupiah ditutup melemah walaupun pada sesi pagi sempat melemah 40 poin. Dalam perdagangan minggu depan tepatnya, hari Senin (19/10/2020), mata uang rupiah kemungkinan akan dibuka melemah walaupun sesi akhirnya ditutup menguat sebesar 5-40 poin di level Rp14.690 - Rp14.730 per dolar AS. 

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan demonstrasi yang ricuh sempat memberikan sentimen negatif terhadap rupiah. Akan tetapi, apabila demo terkendali maka tidak berpengaruh negatif ke rupiah.

“Pasar masih mewaspadai aksi demonstrasi yang masih berlangsung ini dan kelanjutan penolakan omnibus law,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (16/10/2020).

Dari eksternal, lanjut Ariston, isu paket stimulus AS juga memberi tekanan dan sentimen positif ke rupiah sepanjang pekan ini. Pembicaraan sempat diharapkan akan menemui kesepakatan yang mendorong pelemahan dolar AS dan penguatan nilai tukar berisiko termasuk rupiah.

Sampai saat ini, dia menyebut pasar masih menunggu kelanjutan pembicaraan. Dolar AS bisa melemah dan memberi keuntungan untuk rupiah jika ada ekspektasi stimulus akan keluar sebelum pemilu.

“Pekan depan dengan kedua isu di atas, rupiah mungkin masih akan bergerak di kisaran Rp14.600-Rp14.850,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Rupiah Omnibus Law
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top