Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Amblas di bawah US$1.900, Begini Ramalan Harga Emas Hingga Akhir Tahun

emas menguat ke level tertinggi sepanjang masa bulan lalu karena investor mencari tempat berlindung di tengah pandemi virus corona, tetapi harga telah turun kembali sejak saat itu.
Dhiany Nadya Utami & Rivki Maulana
Dhiany Nadya Utami & Rivki Maulana - Bisnis.com 23 September 2020  |  14:36 WIB
Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk. - mind.id
Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk. - mind.id

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas terjerembap ke bawah level US$1.900 per troy ounce sekaligus terseret ke ke level terendah sejak 23 Juli 2020.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot bertengger di posisi US$1.880,12 per troy ounce atau turun 1,06 persen pada pukul 14.27 WIB. 

Harga emas berjangka Comex juga turun 1,21 persen ke posisi US$1.884,60 per troy ounce. Baik harga emas spot maupun Comex menempati posisi terendah sejak 23 Juli 2020.

Sementara itu, indeks dolar terpantau naik 0,18 persen ke posisi 94,1590. Indeks dolar mengukur kekuatan mata uang dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia lainnya.

Business Manager Indosukses Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan perkembangan pandemi Covid-19 di beberapa negara Eropa yang kembali memberlakukan lockdown seharusnya memberikan sentimen yang positif terhadap emas, tapi nyatanya malah dolar yang menguat.

Namun, hal itu tidak terjadi. Menurut Suluh, ketidakpastian kebijakan ekonomi di Amerika Serikat membuat investor akan cenderung lebih nyaman memegang mata uang greenback sebagai aset safe haven.

“Dan ini kasarnya kembali ke situasi normal, ketika dolar menguat, emas tertekan. Kenapa dolar menguat? Karena langkah Powell [Kepala The Fed] belum jelas, jadi sambil menunggu investor beralih ke dolar,” jelasnya ketika dihubungi Bisnis.

Kendati turun, harga emas diramal bisa mencetak rekor baru sebelum akhir tahun. Pemicunya adalah risiko ketidakpastian dari pemilihan presiden AS pada awal November 2020 mendatang.

Dilansir dari Bloomberg, Citigroup Inc dalam risetnya menyebut ketidakpastian akan kontestasi pilpres di AS mungkin akan kurang dihargai oleh pelaku pasar. Perkiraan Citibank menyiratkan lonjakan lebih dari $ 200 untuk emas berjangka dari level saat ini.

Untuk diketahui, emas menguat ke level tertinggi sepanjang masa bulan lalu karena investor mencari tempat berlindung di tengah pandemi virus corona, tetapi harga telah turun kembali sejak saat itu.

Pemilu AS disebut bisa menjadi katalis bagi harga emas yang bergerak datar meskipun secara historis tidak ada pola yang jelas untuk perdagangan emas atau volatilitas harga setelah dan setelah pemilu AS.

“Itulah salah satu alasan mengapa kami memperkirakan harga emas akan mencapai rekor baru sebelum akhir tahun,” tulis Citigroup.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini Harga Emas Antam Kebijakan The Fed Pemilu Amerika
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top