Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS-China Bergejolak, Investor Ketar-ketir

Kekhawatiran atas kemungkinan memburuknya hubungan AS-China menekan Hang Seng China Enterprises Index merosot 1,9 persen pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2020).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 22 Juli 2020  |  22:51 WIB
Seorang pejalan kaki berjalan melewati papan ticker elektronik yang menampilkan angka harga saham di luar kompleks Exchange Square di Hong Kong. -  Justin Chin / Bloomberg
Seorang pejalan kaki berjalan melewati papan ticker elektronik yang menampilkan angka harga saham di luar kompleks Exchange Square di Hong Kong. - Justin Chin / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Kabar tentang permintaan pemerintah Amerika Serikat untuk menutup kantor konsulat jenderal China di Houston membuat investor gelisah. Perkembangan ini dikhawatirkan akan mengurangi antusiasme pasar terhadap aset berisiko.

Kekhawatiran atas kemungkinan memburuknya hubungan AS-China menekan Hang Seng China Enterprises Index merosot 1,9 persen pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2020), setelah mampu reli tiga hari beruntun, berdasarkan data Bloomberg.

Nilai tukar yuan China terhadap dolar AS ikut melemah, sementara obligasi pemerintah menanjak.

Kemerosotan yang tiba-tiba pada perdagangan hari ini menjadi pengingat bagaimana pasar dapat mendadak terjatuh karena eskalasi ketegangan antara dua ekonomi terbesar di dunia itu.

Menurut ekonom senior di DBS Bank Ltd. cabang Hong Kong Nathan Chow, peristiwa ini menandai eskalasi dalam aspek politik dari konfrontasi antara China dan AS.

Investor dinilainya akan ingin menghindari aset-aset berisiko dalam waktu dekat, sehingga memengaruhi aset berisiko seperti yuan dan saham.

“Namun, saya tidak berharap dampak negatif dari insiden ini akan berlangsung lama, kecuali Beijing mengumumkan tindakan pembalasan yang besar,” ujar Chow, dilansir dari Bloomberg.

Senada, Kepala riset di CEB International Investment Corp. Banny Lam berpendapat investor khawatir bahwa permintaan penutupan kantor konsulat China dapat menyebabkan serangkaian tindakan lebih lanjut.

“Meski semua orang sadar akan hubungan China-AS yang buruk, tak seorang pun ingin melihat eskalasi lebih lanjut,” terang Lam.

Di sisi lain, ada pula analis yang berpandangan bahwa kekhawatiran pasar hanya akan terjadi sesaat. Namun, prospek pasar untuk jangka panjang dipandang akan bearish.

“Pasar akan khawatir sebentar dan kemudian melanjutkan reli sampai mereka menyadari bahwa dinamika China-AS pada akhirnya mengempaskan segalanya. Saya sangat bearish dalam jangka panjang,” jelas Kepala riset pasar finansial Asia di Rabobank, Hong Kong, Michael Every.

Dalam suatu briefing di Beijing pada Rabu (22/7), juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengungkapkan pemerintah AS memberi China waktu tiga hari untuk menutup kantor konsulatnya di Houston.

Melalui sebuah pernyataan, Departemen Luar Negeri AS kemudian mengonfirmasi bahwa mereka telah memerintahkan kantor konsulat China ditutup untuk melindungi kekayaan intelektual dan informasi pribadi Amerika.

Perkembangan ini menambah daftar poin perselisihan AS dengan China yang berlarut-larut mulai dari perdagangan, pandemi Covid-19, hingga undang-undang keamanan nasional di Hong Kong.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indeks hang seng perang dagang AS vs China saham
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top