Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

4 Bulan Corona di Indonesia, Rupiah Sempat Deja Vu Rasa 1998

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh level Rp16.575 per dolar AS pada 23 Maret 2020, terendah sejak krisis keuangan 1998. Namun, pelan tapi pasti, nilai tukar rupiah terus menguat dan beberapa kali memimpin penguatan mata uang asia terhadap dolar AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 02 Juli 2020  |  19:30 WIB
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (18/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (18/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Penyebaran virus corona atau Covid-19  di Indonesia sudah empat bulan lamanya sejak kasus pertama kali resmi diumumkan pada 2 Maret 2020. Sejak itu pun, situasi pasar bergejolak dan membuat aset investasi menyentuh level rekor terendah baru, termasuk rupiah.

Pada 2 Maret 2020, rupiah menutup perdagangan di level Rp14.265 per dolar AS. Sejak saat itu lah tren rupiah terus menurun menuju level-level terendah baru.

Padahal, pada awal tahun ini pelaku pasar dan ekonomi cukup optimistis rupiah dapat bergerak cenderung stabil di kisaran Rp13.000 per dolar AS. Namun, kasus Covid-19 yang semakin marak secara global dan penambahan kasus di dalam negeri membuyarkan proyeksi tersebut.

Kemudian, pada 23 Maret 202 rupiah untuk pertama kalinya menutup perdagangan berada di bawah level Rp16.000 per dolar AS, terendah sejak krisis keuangan 1998 atau dalam 22 tahun terakhir.

Saat itu, rupiah ditutup di level Rp16.575 per dolar AS, melemah 3,85 persen atau 615 poin. Penurunan rupiah itu pun menjadi yang terlemah di antara mata uang Asia lainnya.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh lesunya minat investor asing untuk mengumpulkan aset-aset berisiko termasuk rupiah.

Kecenderungan investor asing untuk melikuidasi aset dan mengumpulkan lebih banyak dolar AS telah menghantui pasar mata uang, tidak hanya di Asia tetapi juga di seluruh dunia. Kepanikan penjualan tersebut pun, bahkan terjadi untuk aset yang biasanya menjadi safe haven seperti emas.

Bagaimana tidak, dalam perdagangan itu indeks dolar yang mengukur  kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang Asia menyentuh level tertingginya di kisaran 102,817.

“Oleh karena itu, menjaga kepercayaan diri investor asing agar  tidak panik menjual dolar AS menjadi sangat penting dan keluar dari pasar Indonesia. Harus dipaparkan bahwa pasar Indonesia masih sangat menarik sebagai tempat berinvestasi,” ujar Josua saat dihubungi Bisnis, Senin (23/3/2020).

Dari titik terendah itu pun akhirnya semua pemangku kebijakan  bahu membahu untuk menjaga kepercayaan diri investor untuk tetap bermain di pasar dalam negeri.

Mulai dari Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan dan melakukan Quantitative Easing, hingga pemerintah Indonesia menerbitkan global bond dan menggelontorkan stimulus sekitar Rp400 triliun untuk membatasi pelemahan ekonomi serta menangani pandemi Covid-19.

Secara perlahan pun investor asing mulai menaruh kepercayaan kembali ke pasar Indonesia dan rupiah sedikit demi sedikit menunjukkan keperkasaannya.

Bahkan, rupiah sempat kembali diperdagangkan di level Rp13.000-an per dolar AS, yaitu menyentuh level tertingginya pada 8 Juni 2020 di posisi Rp13.873 per dolar AS.

Hal itu pun berhasil membuat rupiah dalam perdagangan empat bulan terakhir tidak terlalu terpukul. Sepanjang 2 Maret hingga 2 Juli 2020, rupiah justru bergerak menguat 0,79 persen.

Jika dibandingkan dengan rekan mata uang Asia lainnya, kinerja rupiah selama pandemi Covid-19 tampak cukup bertahan. Kinerja rupiah berhasil mengalahkan baht yang tahun lalu menjadi jawara Asia.

Untuk diketahui, dalam periode perdagangan itu baht melemah 1,27 persen, peso Filipina terkoreksi 1,91 persen, dolar Hong Kong yang melemah 0,38 persen, dan dolar Taiwan turun 1,92 persen.

Sementara itu, di jajaran zona hijau, penguatan dipimpin oleh rupee yang menguat 3,14 persen, diikuti ringgit yang naik 1,97 persen, yuan naik 1,52 persen, dan dolar Singapura yang menguat 0,2 persen. Adapun, pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2020), rupiah ditutup di level Rp14.378 per dolar AS, terkoreksi 0,67 persen atau 95 poin.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa saat ini rupiah kembali dikelilingi sentimen negatif, salah satunya arus dana asing yang keluar dari pasar dalam negeri lagi.

Pasar masih khawatir terhadap kasus Covid-19 yang belum menunjukkan sinyal mereda. Namun, sebagian pasar cukup optimistis terhadap perkembangan vaksin.

“Oleh karena itu, rupiah kemungkinan masih akan melemah di level Rp14.350 hingga Rp14.450 per dolar AS,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Kamis (2/7/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top