Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Trump Bakal Gelar Konpers Soal China, Wall Street Terjungkir Balik

Bursa saham Amerika Serikat tergelincir dari penguatannya dan berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis (28/5/2020), setelah Presiden Donald Trump mengumumkan akan menggelar konferensi pers untuk membahas China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 Mei 2020  |  05:25 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\\n
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat tergelincir dari penguatannya dan berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis (28/5/2020), setelah Presiden Donald Trump mengumumkan akan menggelar konferensi pers untuk membahas China.

Langkah tersebut berpotensi menyulut ketegangan yang semakin nyata antara dua negara berekonomi terbesar di dunia tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (28/5/2020) waktu setempat indeks saham acuan S&P 500 ditutup terkoreksi 0,21 persen atau 6,40 poin ke level 3.029,73, meskipun tetap bertahan di atas level 3.000, level teknis yang dipandang penting oleh para pengamat grafik.

Sejalan dengan S&P, indeks Nasdaq Composite melemah 0,46 persen atau 43,37 poin ke posisi 9.368,99 dan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir melorot 0,58 persen atau 147,63 poin ke level 25.400,64.

Indeks S&P 500 memangkas habis penguatan lebih dari 1 persen yang mampu dialami sebelumnya pada sesi perdagangan Kamis di tengah serangkaian data ekonomi yang menunjukkan meredanya dampak dari pandemi virus corona (Covid-19).

Data menunjukkan 2,1 juta warga Amerika mengajukan klaim pengangguran pada pekan yang berakhir 23 Mei, tetapi klaim berkelanjutan menurun untuk pertama kalinya selama periode pandemi Covid-19.

Sementara itu, data pesanan barang tahan lama dan konsumsi pribadi menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan, sehingga menambah tanda-tanda bahwa dampak terburuk terhadap ekonomi telah berlalu.

Namun, pengumuman Trump mengenai rencana untuk mengadakan konferensi pers pada Jumat (29/5/2020) waktu setempat menjungkirbalikkan sentimen pasar. Investor berspekulasi AS akan mengambil tindakan terhadap China.

Meski agendanya tak jelas, tindakan ini dapat mengganggu kestabilan ekonomi global. Para pedagang pun berhati-hati dengan memanasnya eskalasi antara pemerintah AS dan China bahkan ketika bursa saham melonjak selama dua hari terakhir.

Para anggota parlemen China sebelumnya menentang Presiden Donald Trump dengan menyetujui proposal untuk undang-undang keamanan nasional baru di Hong Kong. Oleh Gedung Putih, langkah ini disebut "kesalahan besar".

“Pasar akan berdagang dengan melihat segala pemberitaan. Mungkinkah dia [Trump] muncul dan mengatakan sesuatu yang dapat mencemaskan pasar secara sementara?” ujar David Spika, Presiden GuideStone Capital Management, seperti dilansir dari Bloomberg.

Bursa saham AS masuk ke zona merah untuk pertama kalinya dalam empat hari. Saham bank dan energi turun setidaknya 1,6 persen. Saham teknologi juga tergelincir, dengan Twitter kehilangan hampir 5 persen setelah Trump mengancam akan melonggarkan perlindungan hukum untuk platform-platform media sosial.

Berbanding terbalik dengan Wall Street, indeks Stoxx Europe 600 mampu berakhir naik tajam 1,6 persen dan indeks MSCI Asia Pacific menguat 0,9 persen.

Di pasar mata uang, Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,3 persen, nilai tukar euro terhadap dolar AS menguat 0,5 persen ke level US$1,106, level terkuat dalam dua bulan, dan yen terapresiasi tipis 0,1 persen ke level 107,63 yen per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street Donald Trump
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top