Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penguatan Harga Minyak Mandek di US$34 per Barel

Pada perdagangan Rabu (27/5/2020) pukul 11.07 WIB, harga minyak WTI kontrak Juli 2020 melemah 0,38 persen atau 0,13 poin menjadi US$34,22 per barel. Adapun, harga minyak Brent kontrak Juli 2020 menurun 0,11 persen atau 0,04 poin menuju US$36,13 per barel.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  11:26 WIB
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Penguatan harga minyak mandek di kisaran US$34 per barel setelah Rusia memberi sinyal akan menunda langkah pemangkasan produksi, serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex turun 1,3 persen pada pembukaan perdagangan hari ini. Penurunan terjadi setelah ditutup pada melampaui US$34 per barel pada penutupan pedagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (27/5/2020) pukul 11.07 WIB, harga minyak WTI kontrak Juli 2020 melemah 0,38 persen atau 0,13 poin menjadi US$34,22 per barel. Adapun, harga minyak Brent kontrak Juli 2020 menurun 0,11 persen atau 0,04 poin menuju US$36,13 per barel.

Dikutip dari Bloomberg, salah seorang narasumber menyatakan bahwa Rusia tetap berkomitmen mengurangi produksinya sesuai kesepakatan OPEC+. Namun, juru bicara pemerintah Rusia menyampaikan pihaknya masih akan melakukan analisis sebelum memutuskan rencana itu.

Anggota OPEC+ sebelumnya telah menyepakati akan memangkas produksi sekitar 10 juta barel per hari, mulai awal Mei. Pemangkasan produksi akan berkurang secara bertahap mulai Juli. Anggota OPEC+ diagendakan bertemu kembali pada bulan depan.

Di sisi lain, harga minyak mendapatkan sentimen negatif dari ketegangan antara Amerika Serikat dan China yang meningkat. Pihak Washington tengah menimbang pemberian sanksi kepada Beijing atas kebijakannya terhadap Hong Kong.

Sementara itu, harga minyak di pasar fisik terus melanjutkan penguatan. Langkah Nigeria dan Aljazair meningkatkan harga jual resmi minyak mentah di negara tersebut menjadi pertanda positif mulai membaiknya harga minyak.

Sejalan dengan itu, stok minyak Amerika Serikat juga diperkirakan akan melanjutkan tren penurunanan seiring meningkatnya konsumsi di negara tersebut.

Survei Bloomberg menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS diperkirakan berkurang sekitar 2,5 juta barel pada pekan lalu. Sementara itu, konsumsi bakar di AS justru melemah 25 persen—35 persen secara year on year (yoy) sepanjang akhir pekan Memorial Day, yang biasanya menjadi periode puncak permintaan bahan bakar di sana.

Pemangkasan produksi dan perbaikan permintaan di sejumlah negara menjadi pendorong harga minyak meroket 80 persen sepanjang sebulan terakhir. Sebelumnya, harga minyak sempat negatif pada April.

Pendiri Vanda Insight di Singapura, Vandana Hari menyatakan bahwa dalam pertemuan OPEC+, pasar akan menyoroti bagaimana Rusia dan Saudi Arabia akan menyelesaikan persoalan ideologis mereka untuk mengatur strategi suplai minyak global untuk semester II/2020.

Dia juga menilai, pasar saat ini tidak terlalu meyakini pemangkasan produksi akan benar-benar dilakukan pada Juli. Pemangkasan produksi mulai periode itu dianggap sebagai sesuatu yang prematur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec harga minyak mentah wti
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top