Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dilema, Beli atau Jual Saham HMSP?

Produsen rokok, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) mengalami penurunan penjualan rokok pada kuartal pertama tahun ini.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 Mei 2020  |  19:52 WIB
Pekerja PT HM Sampoerna Tbk melakukan aktivitas di pabrik sigaret kretek tangan (SKT) Sampoerna di Surabaya, Kamis (19/5/2016). - Antara
Pekerja PT HM Sampoerna Tbk melakukan aktivitas di pabrik sigaret kretek tangan (SKT) Sampoerna di Surabaya, Kamis (19/5/2016). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten rokok PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) menghadapi tantangan berat pada semester awal tahun ini berupa penutupan dua fasilitas pabrik yang disebabkan oleh terkonfirmasinya puluhan karyawan yang terinfeksi Covid-19 ditambah dengan kenaikan harga jual eceran (HJE) akibat dari penyesuaian tarif cukai.

Kendati demikian, perseroan sekali lagi dapat meyakinkan investornya dengan memberikan catatan kinerja cemerlang pada kuartal pertama tahun ini.

Dikutip dari laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2020 yang diunggah perseroan di laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (12/5/2020), emiten berkode saham HMSP tersebut berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 1,1 persen secara tahunan menjadi Rp3,32 triliun.

Padahal, penjualan bersih perseroan menurun tipis 0,49 persen secara tahunan menjadi Rp23,69 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

Tepat pada Senin (18/5/2020) lalu, perseroan juga mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp119,8 per saham untuk tahun buku 2019.

Jika mengacu pada jumlah saham yang beredar sebesar 116,32 miliar lembar saham, perseroan akan membagikan dividen sebesar Rp13,93 triliun pada tahun ini.

Angka tersebut membuktikan produsen rokok Dji Sam Soe tersebut konsisten membagikan rasio pembayaran dividen atau dividen payout ratio (DPR) 100 persen sama seperti tahun-tahun sebelumnya, meski perseroan dirundung masalah yang cukup menyulitkan kinerja keuangannya di masa depan.

Di lantai bursa, saham HMSP parkir di zona merah dengan koreksi sebesar 3,54 persen atau 65 poin ke level Rp1.770 pada penutupan pasar Rabu (20/5/2020). Sepanjang tahun berjalan, saham HMSP sudah terjun 15,31 persen dari posisi awal tahun. Pertanyaannya, apakah saham HMSP masih menarik? Lebih baik beli atau jual?

Beli atau Jual Saham HMSP

Ciptadana Sekuritas menggarisbawahi kinerja kuartal pertama HMSP menunjukkan betapa rentannya permintaan rokok ketika harga jual ecerannya dinaikkan. Rincian penurunan volume penjualan dari beberapa brand perseroan juga mengindikasikan pelemahan volume penjualan dalam beberapa waktu ke depan. 

Analis Muhammad Fariz menegaskan penurunan penjualan akan sangat terasa pada kuartal kedua tahun ini. Seperti yang diketahui, pabrik, kantor, toko, mall, dan lokasi bisnis lainnya di kawasan Jakarta ditutup sebagai langkah penanggulangan penyebaran pandemi Covid-19 yang akhirnya diikuti oleh daerah lainnya.

“Hal ini tentu akan memengaruhi masyarakat berpenghasilan rendah dan pekerja informal karena mereka tidak mendapatkan penghasilan selama PSBB. Karenanya, kami percaya bahwa penyesuaian harga pada kuartal kedua akan diimbangi dengan penurunan volume penjualan secara keseluruhan,” tulis Fariz dalam risetnya, Rabu (13/5/2020).

Dengan begitu, ia merekomendasi investor untuk menjual saham HMSP dengan target harga yang tidak berubah yakni Rp1.425 untuk kurun waktu 12 bulan ke depan. Sekuritas berpendapat, perubahan rekomendasi dari tahan menjadi jual saham HMSP disebabkan antisipasi pembayaran dividen.

Keputusan tersebut juga mempertimbangkan penurunan pendapatan secara keseluruhan pada tahun 2020 menjadi Rp87,73 triliun dan laba bersih sebesar Rp10,49 triliun.

Berkebalikan dengan Ciptadana Sekuritas, RHB Sekuritas malah merekomendasikan untuk membeli saham HMSP.

Berdasarkan penelitian sekuritas melalui pedagang grosir, harga produk rokok HMSP meningkat rata-rata 5,4 persen secara year-to-date dengan segmen penjualan sigaret kretek mesin melalui brand Marlboro Filter Black yang mendulang keuntungan besar bagi perseroan.

Analis Michael Setjoadi mengatakan meskipun kenaikan tarif cukai rokok sebesar 24 persen mulai berlaku sejak Februari 2020, perseroan berhasil membukukan kinerja top line dan bottom line yang stagnan.

“Dengan asumsi HJE diberlakukan secara efektif, average selling price (ASP) akan naik dan mempersempit harga di antara beberapa kompetitor yang akhirnya meningkatkan penjualan dan marginnya (HMSP),” tulis Michael dalam risetnya, Rabu (13/5/2020).

Dengan perkiraan penjualan dan laba bersih akan meningkat masing-masing Rp112,98 triliun dan Rp14,03 triliun, sekuritas menetapkan target harga Rp2.200 yang juga mempertimbangkan price-to-earning ratio (PER) 14,84 kali pada tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hm sampoerna hmsp
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top