Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Emiten Tekstil Ditopang Natural Hedging

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus merangkat naik dalam sebulan terakhir dari Rp14.113 per dolar AS pada 4 Maret 2020 menjadi Rp16.430 akhir pekan lalu.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 05 April 2020  |  16:45 WIB
Pabrik Pan Brothers - Bisnis
Pabrik Pan Brothers - Bisnis

Bisnis.com,JAKARTA - Pendapatan ekspor yang dikantongi dalam denominasi dolar Amerika Serikat menjadi natural hedge atau lindung nilai alami bagi sejumlah emiten tekstil dalam menghadapi pelemahan nilai tukar Rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus merangkat naik dalam sebulan terakhir dari Rp14.113 per dolar AS pada 4 Maret 2020 menjadi Rp16.430 akhir pekan lalu.

Direktur Utama PT Trisula International Tbk. Kris S Widjojo mengungkapkan senantiasa mewaspadai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap berbagai mata uang lainnya. Di satu sisi, kenaikan kurs mata uang asing menurutnya menyebabkan kenaikan pendapatan.

“Sekitar 70 persen penjualan kami ke pihak ketiga untuk 9 bulan 2019 adalah penjualan ekspor,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2019, TRIS mengantongi penjualan bersih Rp687 miliar. Dari jumlah itu, kontribusi dari ekspor kepada pihak ketiga memegang peranan paling besar senilai Rp423,80 miliar.

Kris mengatakan pendapatan dari ekspor itu sekaligus menjadi natural hedge untuk kewajiban keuangan dalam mata uang asing terutama dolar AS. Dengan demikian, lindung nilai alami membantu emiten berkode saham TRIS tersebut dalam memenuhi rencana pembayaran.

“Tris senantiasa berhati-hati dalam mengelola keuangannya,” paparnya.

Di lain pihak, Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk. Anne Patricia Sutanto menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak akan berdampak signifikan terhadap perseroan. Pasalnya, pendapatan PBRX sebagian besar dalam denominasi dolar AS.

“Jadi, walauapun kami memiliki utang dolar AS, kami masih memiliki natural hedge,” jelasnya.

Anne menjelaskan bahwa saat ini perseroan memiliki fasilitas kredit modal kerja bergulir senilai US$138 juta. Pinjaman itu menurutnya akan jatuh tempo pada 2021.

Perseroan, lanjut dia, tengah mengkaji pinjaman sindikasi yang baru untuk pembiayaan kembali atau refinancing fasilitas tersebut. Emiten tekstil berkode saham PBRX itu akan menarik fasilitas modal kerja yang baru dengan durasi jatuh tempo yang lebih panjang.

“Pinjaman sindikasi sama hanya lebih panjang sampai dengan 2023,” ujarnya.

Dia mengatakan akan menarik minimal fasilitas baru senilai US$138 juta. Fasilitas itu diperkirakan akan berasal dari enam perbankan.

Seperti diketahui, Moody’s Investors Service baru-baru ini menurunkan outlook PBRX dari stabil menjadi negatif. Perubahan prospek produsen tekstil mencerminkan ketidakpastian terkait dengan pembiayaan kembali fasilitas kredit senilai US$138,5 juta yang jatuh tempo pada Februari 2021 di tengah kondisi yang menantang dan meningkatnya gejolak global serta regional.

Moody’s menyebut saldo kas PBRX senilai US$64 juta per kuartal III/2019 akan cukup menutupi kebutuhan kas operasional, pengeluaran modal yang direncanakan, dan pembayaran utang jangka pendek serta dividien yang diproyeksikan selama 12 bulan—18 bulan ke depan. Namun, jumlah itu diperkirakan tidak cukup untuk menutupi fasilitas kredit bergulir senilai US$138 juta yang jatuh tempo Februari 2021.

Anne menyebut penjelasan Moody’s hanya dipakai sebagai persyaratan. Pasalnya, saat ini perseroan tidak memiliki isu permasalahan arus kas.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nilai tukar rupiah tekstil lindung nilai
Editor : David Eka Issetiabudi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top