Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Seberapa Kuat Kinerja dan Saham Emiten Jumbo?

Kinerja saham emiten kapitalisasi pasar terbesar justru tertekan sepanjang kuartal I/2020.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 03 April 2020  |  06:51 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Faktor kepanikan investor akibat penyebaran COVID-19 atau virus corona tak hanya membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot, tetapi juga membuat saham-saham berkapitalisasi jumbo atau big caps jatuh tersungkur.

Sebut saja PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI), dari 10 big caps yang bertengger dalam daftar indeks, harga saham BBNI menjadi yang paling terdampak terhadap volatilitas pasar. Hal ini dikarenakan sepanjang tahun berjalan, laju saham perbankan pelat merah tersebut sudah melorot 51,34 persen per kuartal I/2020.

Jika melihat secara keseluruhan, tidak ada satupun dari emiten yang duduk di jajaran big caps tak terdampak pada penurunan indeks. Namun, menjadi menarik jika melihat apa yang menjadi tantangan dan prospek laju saham big caps ini di tahun 2020.

Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee menilai pendemi COVID-19 atau virus corona tentunya menjadi pemberat laju kinerja fundamental dan pergerakan saham emiten berkapitalisasi besar.

“Kalau bank tekanan besarnya pasti peningkatan NPL (non performing loan). Wacananya adalah penundaan pembayaran pokok dan cicilan, tentunya bank harus hati-hati menjaga likuiditas,” ungkap Hans kepada Bisnis.com.

Meski lebih defensif, tantangan terbesar untuk emiten sektor konsumer adalah dari sisi logistik yang terkendala akibat penurunan aktivitas bisnis. Terlebih lagi, harga bahan baku yang meningkat, khususnya di sektor farmasi juga menjadi penekan kinerja fundamental saham konsumer.

Di sisi lain, Hans juga mengatakan aktivitas berselancar melalui internet sangat menguntungkan bagi emiten telekomunikasi karena kebijakan work from home. Adapun, ia menilai secara garis besar harga komoditas saat ini tengah tertekan sejalan dengan potensi pelambatan ekonomi global sehingga ia tidak menjagokan emiten komoditas.

“Kalau saya merekomendasikan bank, karena recovery ekonomi memang representatifnya adalah bank. Kita meyakini bank-bank besar kita fundamentalnya cukup baik seperti BMRI, BBRI dan BBCA. BBNI juga bagus, tapi gerakannya lambat,” imbuh Hans.

10 SAHAM PENEKAN IHSG KUARTAL I/2020

TickerPerusahaanPriceNet Chg% ChgPoints%Idx Mv
BBRIBank Rakyat Indonesia Persero3020-1214.8-28.69%-133.056-7.56%
BBCABank Central Asia Tbk PT27625-5800-17.35%-126.98-7.21%
ASIIAstra International Tbk PT3900-3025-43.68%-109.843-6.24%
BMRIBank Mandiri Persero Tbk PT4680-2626.03-35.94%-108.821-6.18%
TPIAChandra Asri Petrochemical Tbk5250-5125-49.40%-81.978-4.66%
TLKMTelekomunikasi Indonesia Perse3160-810-20.40%-71.972-4.09%
HMSPHanjaya Mandala Sampoerna Tbk1425-675-32.14%-70.424-4.00%
BBNIBank Negara Indonesia Persero3820-3799.54-49.87%-62.919-3.57%
BRPTBarito Pacific Tbk PT725-785-51.99%-62.677-3.56%
UNVRUnilever Indonesia Tbk PT7250-1150-13.69%-39.351-2.24%

Berbeda dengan Hans, Kepala Riset PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menyebut ekpektasi pasar relatif lebih jauh ketimbang realisasi yang ada. Ia menilai potensi pertumbuhan ekonomi akan selalu terbuka jika pandemi sudah berhasil diatasi.

“Contohnya, meskipun Telkom di kuartal satu kemungkinan akan mencatatkan hasil yang cukup bagus tapi ternyata harga sahamnya juga terkoreksi. Kalau bicara tantangan terbesarnya adalah dari faktor marketnya sendiri,” ujar Alfred.

Menurutnya, setelah angka pasien positif COVID-19 setidaknya berkurang, pergerakan pasar diproyeksikan akan membaik. Dan, pada akhirnya, selisih penurunan kinerja fundamental emiten big caps akan menyesuaikan dengan penurunan harga saham yang sudah terlanjur jatuh pada kuartal I/2020.

Karenanya, Alfred masih menjagokan emiten konsumer mengingat pemerintah pun masih fokus untuk bisa mempertahankan konsumsi masyarakat di tengah wabah seperti saat ini. Sehingga, jika diperbandingkan sektor perbankan dengan barang konsumer, ia menilai emiten konsumer akan lebih kecil terdampak.

“Kalbe Farma kemungkinan untuk produk kesehatan akan diuntungkan pada tahun ini. Kalau di-compare dengan produk Indofood, produknya kebanyakan kebutuhan pokok. Dua-duanya relatif punya fundamental defensif yang cukup bagus. Kalau valuasinya, Indofood jauh lebih murah dibandingkan Kalbe Farma atau Unilever sekalipun,” pungkasnya.

TABEL PERTUMBUHAN LABA BERSIH BIG CAPS 2017 - 2019 (%)
KODE201720182019
BBCA13.1210.9210.48
BBRI10.6911.576.25
UNVR9.6130.0518.59
BMRI49.4921.29.86
ASII24.5814.990.16
ICBP5.4520.5310.12
TPIA (US$ juta)6.2-42.99-87.4
GGRM16.120.4939.64
BBNI20.0910.272.46
INDF0.580.2417.81
BRPT (US$ Juta)-10.32-53.16-38.9
UNTR47.9950.291.68
INTP-51.95-38.3860.16
SMGR55.4689.95-23.15
HMSP-0.726.851.35

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten kapitalisasi pasar big caps
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top