Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ada 'Jakarta Great Sale' di Pasar Saham, Investor Masih Diam Saja?

Harga saham-saham unggulan yang sedang turun dinilai menjadi momentum bagi investor untuk menambah investasi di instrumen saham.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  05:19 WIB
Pengunjung menggunakan smarphone memotret papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Seni (16/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Pengunjung menggunakan smarphone memotret papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Seni (16/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com,JAKARTA - Koreksi pasar saham yang terjadi sejak awal tahun membuat harga saham sejumlah emiten sudah layak dikoleksi oleh para investor karena telah mengalami penurunan harga puluhan persen.

“Apakah bapak dan ibu diam-diam saja melihat saham yang turun puluhan persen sejak awal tahun ini,” ujar Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi saat membuka perdagangan ke-55 periode 2020 di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin (16/3/2020).

Wejangan dari Bos BEI itu sepertinya belum sepenuhnya direspons oleh investor. Pasalnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali tersungkur 216,914 poin atau 4,42 persen ke level 4.690,657 pada sesi perdagangan, Senin (16/3/2020).

Untuk periode berjalan 2020, IHSG telah mengalami koreksi 25,54 persen. Dalam satu tahun terakhir, pergerakan indeks tersungkur 28,12 persen. Koreksi tersebut membuat saham-saham unggulan juga tersungkur. Bolehlah dibilang, di pasar saham domestik sedang terjadi 'Jakarta Great Sale'.

Pada sesi perdagangan, Senin (16/3/2020), sejumlah saham berkapitalisasi besar tersungkur ke zona merah. PT HM Sampoerna Tbk. misalnya, terkoreksi 6,95 persen ke level Rp1.405 per lembar saham.

Untuk periode berjalan 2020, emiten berkode saham HMSP itu tercatat telah mengalami koreksi 33,10 persen. Investor asing membukukan jual bersih atau net sell senilai Rp602,76 miliar.

Indeks LQ45 juga terkoreksi dalam sepanjang periode berjalan 2020. Indeks yang dihuni oleh emiten-emiten pilihan itu terkoreksi 27,65 persen ke level 731,952 hingga perdagangan, Senin (16/3/2020).

Secara keseluruhan, investor asing tercatat masih mencetak net sell atau jual bersih di seluruh perdagangan senilai Rp7,56 triliun hingga perdagangan, Senin (16/3/2020).

Inarno menjelaskan bahwa penurunan IHSG sebesar 22 persen hingga awal perdagangan, Senin (16/3/2020), menjadi yang terbesar kedua sejak krisis 2008. Kala itu, indeks hargs mengalami penurunan hingga 50%.

Dia menyebut penyebaran Covid-19 berdampak terhadap kondisi ekonomi global. Tidak terkecuali panic selling dari investor global dan domestik. Indeks saham di seluruh dunia termasuk Indonesia. Kondisi itu sebagai respons investor atas peningkatan kasus virus corona.

Terakhir atau pekan lalu, BEI melakukan trading halt hingga dua kali. Langkah itu setelah IHSG anjlok pasca diumumkannya corona sebagai pandemik. IHSG tidak sendirian. Trading halt atau pembekuan sementara perdagangan saham juga terjadi di sejumlah negara dunia.

Namun, Inarno menyatakan ketahanan perekonomian Indonesia jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Return on equity emiten di dalam negeri menurutnya menjadi yang tertinggi di Asia.

Pada Senin (16/3/2020) pagi, perdagangan di BEI dibuka bersama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau kini dikenal dengan BP Jamsostek, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), serta Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Dia menambahkan masuknya dana pensiun ke pasar saham bukan intervensi dari pihak manapun. Akan tetapi, hal itu merupakan kesadaran bisnis rasional.

“Sudah waktunya investor kembali ke pasar modal dalam negeri,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto mengatakan langkah itu sesuai dengan strategi aset alokasi periode 2020. Menurutnya, BPJS Ketenagakerjaan yang dikenal dengan BP Jamsostek menyiapkan dana khusus.

“Kami memang mempersiapkan dana yang dialokasikan untuk peningkatan portofolio saham sekitar Rp6 triliun hingga Rp8 triliun,” jelasnya.

Agus mengatakan nilai tersebut di luar transaksi jual beli yang belum dapat diperkirakan besarannya. Sebagai gambaran, pada Januari 2020—Februari 2020, BP Jamsostek melakukan transaksi beli dan jual saham senilai Rp20 triliun.

Rinciannya, lanjut dia, membeli Rp10 triliun dan menjual Rp9 triliun. Dengan demikian, tercatat beli bersih atau net buy senilai Rp1 triliun.

Agus mengatakan sebelum memutuskan masuk ke suatu saham, selain harga dan fundamental, BP Jamsostek juga akan mempertimbangkan kapitalisasi pasar, ketahanan terhadap isu global, serta rasio pembayaran dividen.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri meyakini kondisi pasar saham sudah tidak akan turun terlalu jauh. Oleh karena itu, pihaknya mengajak seluruh dana pensiun untuk masuk saat ini.

“Kalau turun tidak terlalu besar-besar. Kalau pun turun, bisa average down dan dengan berbaliknya situasi nanti bisa mendapatkan benefit dari alokasi saat ini,” paparnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Januari 2020, saat ini terdapat Dana Pensiun Pemberi Kerja-Program Pensiun Manfaat Pasti (DPPK-PPMP) sebanyak 158 perusahaan, Dana Pensiun Pemberi Kerja-Program Pensiun Iuran Pasti (DPPK-PPIP) sebanyak 42 perusahaan, dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) sebanyak 24 perusahaan. Dengan demikian, total perusahaan dana pensiun sebanyak 224 perusahaan per Januari 2020.

Dus, saat investor kakap sudah mulai masuk pasar saham, apakah investor akan diam saja melihat harga saham sedang diobral?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top