Ringkasan Perdagangan 4 Februari: IHSG & Rupiah Rebound, Emas Pudar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak bangkit dari pelemahannya bersama nilai tukar terhadap dolar AS di tengah rebound pasar saham global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  20:12 WIB
Ringkasan Perdagangan 4 Februari: IHSG & Rupiah Rebound, Emas Pudar
Rupiah dan IHSG. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak bangkit dari pelemahannya bersama nilai tukar terhadap dolar AS di tengah rebound pasar saham global.

Pasar saham global serempak menguat setelah aksi jual brutal yang dialami bursa saham China terhenti saat investor mencermati upaya terkini untuk membendung wabah virus corona.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Selasa (4/2/2020):

IHSG Patahkan Koreksi Tiga Hari, BBCA & BBRI Pendongkraknya

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound ke zona hijau dan berakhir menguat 0,65 persen atau 38,17 poin di level 5.922,34.

Sebanyak tujuh dari sembilan sektor berakhir di wilayah positif, dipimpin aneka industri (+1,68 persen) dan finansial (+1,33 persen). Adapun sektor perdagangan dan pertanian masing-masing terkoreksi 0,50 persen dan 0,07 persen.

Sementara itu, dari 676 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 210 saham menguat, 184 saham melemah, dan 282 saham stagnan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing naik 2,48 persen dan 2,24 persen menjadi pendorong utama IHSG.

Investor Cermati Upaya Bendung Virus Corona, Saham Global Rebound

Sejumlah ekonom berpendapat bahwa merebaknya virus corona berikut upaya pemerintah China untuk menghentikan penyebarannya menunjukkan bahwa ekonomi China akan tumbuh lebih lambat pada kuartal ini daripada yang diperkirakan.

Goldman Sachs Group Inc, UBS Group AG dan Macquarie Group Ltd. adalah di antara mereka yang memangkas proyeksi pertumbuhan mereka untuk kuartal pertama dan full year.

"Yang terburuk belum berakhir untuk pasar China. Kita hanya melihat rebound setelah penurunan tajam kemarin. Ini memberi waktu untuk mengambil jeda," kata Sean Lee, manajer dana di Shin Kong Investment Trust.

Rupiah Bangkit dan Menguat

Nilai tukar rupiah rebound dan ditutup terapresiasi 27 poin atau 0,20 persen di level Rp13.715 per dolar AS, setelah melemah 87 poin dan berakhir di posisi 13.742 pada Senin (3/2).

Padahal, seiring dengan apresiasi nilai tukar rupiah, indeks dolar AS terpantau melanjutkan kenaikannya sebesar 0,12 persen atau 0,120 poin ke posisi 97,920 pukul 15.50 WIB, setelah ditutup menguat 0,42 persen atau 0,410 poin di level 97,800 pada Senin (3/2).

Dilansir dari Bloomberg, mayoritas mata uang Asia rebound setelah China menetapkan nilai yuan hariannya lebih tinggi dari level 7 yuan per dolar dalam upaya mendukung pasar keuangannya dari tekanan akibat wabah virus corona.

“Optimisme karena saham China tampaknya pulih dan memberikan dukungan untuk valas di Asia,” kata Mingze Wu, pedagang Valas di Intl Asia, seperti dikutip Bloomberg.

Virus Corona Mengancam, Citigroup Pangkas Tajam Proyeksi Harga Minyak

Citigroup memangkas proyeksi harga untuk sejumlah komoditas mulai dari minyak hingga tembaga seiring dengan memburuknya dampak wabah virus corona.

Harga minyak mengalami penurunan paling parah, dengan pemangkasan estimasi oleh bank tersebut untuk tiga kuartal pertama tahun ini. Citi juga mengurangi proyeksi untuk harga tembaga pada kuartal pertama.

Hal ini dilakukan lantaran wabah virus corona telah "secara drastis mengubah" prospek ekonomi China dan global, tulis analis Citigroup termasuk Ed Morse, dalam catatannya.

Emiten Batu Bara Dihantui Wabah Corona

Kalangan analis menilai emiten batu bara berpotensi terpapar risiko pelemahan ekonomi China sebagai buntut dari wabah Virus Corona. Namun, permintaan batu bara di dalam negeri dinilai bisa mengurangi terpaan risiko yang datang dari faktor global.

Sejak wabah virus corona merebak, kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi China kian menjadi. Konsesus Bloomberg memperkirakan ekonomi China akan tumbuh melambat 4,6 persen pada kuartal I/2020.

Analis Indo Premier Sekuritas Mino mengatakan pelambatan ekonomi China akan berdampak signifikan terhadap sektor komoditas dalam negeri, terutama komoditas batu bara. Dia memperkirakan, laju emiten batu bara akan mendapat ganjalan keras pada tiga bulan pertama 2020.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak April 2020 melemah 10 poin atau 0,63 persen ke level US$1.572,40 per troy ounce pukul 15.51 WIB, saat investor mencermati upaya terkini untuk membendung wabah virus corona.

Seiring dengan apresiasi nilai tukar rupiah, indeks dolar AS terpantau melanjutkan kenaikannya sebesar 0,12 persen atau 0,120 poin ke posisi 97,920 pukul 15.50 WIB, setelah ditutup menguat 0,42 persen atau 0,410 poin di level 97,800 pada Senin (3/2).

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta turun Rp1.000 menjadi level Rp778.000 per gram. Harga pembelian kembali atau buyback emas ikut berkurang Rp1.000 menjadi Rp695.000 per gram dari harga pada Senin (3/2/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, virus corona

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top